Tiga hari setelah semua kekacauan itu, pagi di rumah sakit terasa lebih ringan. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi lorong perinatologi sudah diterangi lampu kuning yang lembut.Di tangan Avrisha, bayi mungilnya tertidur pulas, dibalut selimut biru muda.Perawat khusus yang ia sewa, perempuan paruh baya bernama Sumi, berpengalaman merawat bayi, berjalan di sampingnya sambil membawa tas besar berisi perlengkapan pulang.“Pelan-pelan, ya, Bu,” ujar Mbok Sumi, suaranya lembut.“Iya, Mbok Sumi. Saya kuat, kok.”Ia mengatakan itu sambil menahan bayi di dada, Di belakang mereka, satu perawat lagi bernama Meira, mengantar kursi roda kosong yang tadinya disiapkan untuk Arion.“Bu Avrisha, Pak Arion nitip salam. Fisiknya udah stabil, cuma kondisi psikisnya masih .., ya, begitu,” ujar Meira hati-hati.Avrisha mengangguk kecil. “Aku bakal jenguk dia nanti sore. Dia masih butuh dipantau, dokter juga belum mengizinkannya pulang. Kamu jaga dia, ya.” Meira menunduk, paham.Tiba-tiba bayi kecil
Terakhir Diperbarui : 2025-12-07 Baca selengkapnya