LOGINDua minggu berlalu secepat ayunan beliung di udara.Pelebaran jalan utama Ciloto telah mencapai tahap pengecoran awal. Debu aspal yang dibongkar, raungan mesin molen, dan teriakan instruksi telah menjadi lagu wajib setiap pagi. Namun, seperti prediksi para kuli tempo hari, warung tenda biru milik Sulastri yang menumpang di pelataran rumah Pak Kadir kini resmi menjadi markas logistik tak resmi para pekerja PT Indo Megah Jaya.Pagi itu, keempat meja panjang terisi penuh.Sesuai janji, para kuli membawa atasan mereka. Di sudut meja, duduk seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan kemeja flanel dan helm putih bertuliskan "Pengawas Lapangan". Namanya Haris, mandor utama yang membawahi puluhan pekerja kasar di sektor jalan."Gila, bener kata lu pada. Ini bumbu tauconya nendang bener!" puji Mandor Haris, menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya. Ia mengacungkan jempol ke arah Sulastri yang sedang sibuk memotong tahu. "Pantesan lu pada ogah makan jatah katering, di mari ada makanan ke
Deru mesin diesel menggetarkan tanah Ciloto. Truk-truk raksasa merayap pelan, meninggalkan tirai debu kecokelatan yang pekat di udara pagi. Sebulan berlalu sejak ekskavator pertama membongkar aspal jalan utama, mengubah lanskap desa yang damai menjadi medan perang konstruksi yang bising.Namun, sekitar dua puluh meter menjorok ke dalam gang, di balik pagar tanaman teh-tehan yang menahan invasi debu, warung terpal biru Sulastri berdiri kokoh di pelataran rumah Pak Kadir.Pagi itu, pelanggan Geco Bu Lastri berubah wajah.Separuh bangku kayu panjang itu kini tak lagi diisi bapak-bapak bersarung, melainkan pria-pria berbadan liat dengan kaus lusuh basah keringat dan rompi hijau stabilo kotor. Sepatu bot karet mereka meninggalkan jejak lumpur kering di lantai semen. Mereka adalah kuli bangunan dari luar kota, tenaga kasa
Dua minggu berlalu sejak Arka memutuskan untuk mengunci rapat-rapat kecurigaannya soal investasi dari Singapura itu.Pagi itu, rutinitas di mulut gang rumah kontrakan mereka berjalan seperti biasa, namun dengan ritme yang sedikit lebih cepat. Kabut sisa semalam masih menggantung tipis di udara Ciloto, bercampur dengan kepulan uap dari panci tauco Sulastri. Waktu menunjuk pukul tujuh lewat. Antrean pembeli Geco sudah mulai menyusut setelah jam sibuk keberangkatan anak sekolah berlalu.Rudi baru saja selesai menumpuk piring-piring plastik kotor ke dalam ember saat sosok yang familier berjalan tergesa-gesa menghampiri lapak mereka."Alhamdulillah masih nyisa. Bu Lastri, bungkus satu, ya! Nggak usah pakai kerupuk merah," seru Pak Asep dari kejauhan. Ketua RT itu tampak mengenakan seragam safari khaki khas pegawai desa, menenteng map plastik berisi tumpukan kertas."Siap, Pak RT! Tumben pagi-pagi sudah rapi pakai seragam kelurahan? Mau ada rapat?" sapa Sulastri ramah, tangannya langsung ce
"Belum selesai, Las? Sini kubantu."Sulastri menoleh dan tersenyum lembut. "Tinggal sedikit lagi, Mas. Duduk saja. Punggungmu pasti pegal habis bongkar TV tabung seharian."Arka tak memaksa. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, melipat kedua lengan di dada. Matanya menatap wajah istrinya lekat-lekat. Ketenangan malam ini adalah momen yang tepat."Nia."Panggilan itu membuat gerakan tangan Sulastri membeku. Nama aslinya. Itu adalah alarm."Ada apa, Mas?" balas Sulastri pelan, matanya langsung menangkap perubahan aura suaminya."Siang tadi, waktu kamu belanja ke pasar, aku naik ke pos pantau di bukit," Arka memulai laporannya dengan suara tertahan. "Aku menyuruh Anton melacak PT Indo Megah Jaya."Sulastri meletakkan pisaunya perlahan ke atas talenan. Rasa waswas yang berhasil ia kubur seharian ini merangsek naik ke tenggorokan."Siapa mereka, Mas? Apa benar... jaringan Clara?"Arka menggeleng pelan. "Bukan. Itu konsorsium properti dan BUMN asli dari Jakarta. Sembilan puluh sembilan p
"Anton. PT Indo Megah Jaya. Lacak sekarang. Aku tidak mau menunggu.""Sistem AHU dan bursa efek sedang diakses, Pak Arka. Beri saya waktu," balas suara bariton dari seberang sana, presisi dan tanpa emosi.Angin gunung bertiup kencang siang itu, memanggang atap seng berkarat dari pos pantau kehutanan yang sudah lama terbengkalai di atas bukit Ciloto. Sehari setelah jadwal siskamling malam itu, Arka Adhiguna mendaki perbukitan saat Sulastri sibuk di dapur dan Gendhis belum pulang dari TK.Di lantai beton yang kusam, sang Hantu duduk bersila. Di pangkuannya, sebuah laptop usang terhubung dengan ponsel satelit hitam yang memancarkan pendar indikator hijau. Dari ketinggian ini, Arka bisa melihat hamparan luas kebun teh Handoyo yang sebentar lagi akan dieksekusi oleh mesin-mesin raksasa.Terdengar ketukan keyboard mekanis yang sangat cepat dari seberang sambungan."Dapat," lapor Anton kurang dari satu menit kemudian. "Data publik dasar, tanpa enkripsi rumit. PT Indo Megah Jaya berstatus Pen
"Seriusan sepuluh kali lipat, Mang? Ah, ngelindur kali orang kelurahan! Mana ada pengembang zaman sekarang mau buang duit jor-joran begitu!"Suara tawa dan bantahan keras dari Kang Deden memecah keheningan malam di pos kamling RW 03. Pemuda itu menepuk pahanya sendiri, menggeleng-gelengkan kepala sambil mengocok kartu remi di tangannya dengan lincah."Lah, dibilangin kok nggak percaya kamu tuh, Den!" balas Mang Udin tak mau kalah. Pedagang sayur itu membetulkan letak sarung kotak-kotak yang melilit lehernya, lalu mencondongkan tubuhnya ke tengah tikar. "Adik ipar saya kan honorer di kelurahan. Dia sendiri yang ngintip draf pembebasan lahan yang dibawa sama orang-orang berdasi itu kemarin siang. Angkanya emang gila-gilaan, bikin jantungan yang baca!"Rabu malam itu, udara di perbukitan Ciloto terasa lebih menusuk dari biasanya. Kabut tipis mulai turun menyelimuti jalanan aspal yang lengang, membiaskan cahaya kekuningan dari bohlam lima watt yang menggantung di tengah pos bambu tersebut
Suara air keran yang mengucur deras memenuhi dapur, namun tidak cukup keras untuk menyamarkan isak tangis tertahan yang berasal dari depan wastafel.Arka melangkah masuk ke dapur dengan hati-hati. Dia memastikan lorong
Arka berjalan keluar menuju dapur. Apa yang tidak diketahui Clara dan Dirga adalah bahwa laptop itu tidak sedang rendering. Arka telah mengaktifkan fitur
Arka membantu Nia berdiri. Dia tidak peduli pada tatapan orang-orang. Dia mengambil botol air dari tangan Nia yang gemetar, lalu berbisik pelan, "Tunggu di pojok sana. Jangan menangis. Lihat aku. Malam ini belum berakhir."
Tangan Arka turun dari wajah Nia, meluncur melewati leher, bahu, lalu berhenti di pinggang ramping gadis itu. Dia meremasnya posesif. Panas tubuh mereka meningkat, mengubah udara dingin walk-in closet







