ログイン"Dapat sesuatu?" tanya Arka. Suaranya datar, nyaris tenggelam oleh desau angin gunung.Di seberang sambungan, terdengar suara helaan napas panjang yang diiringi gemerisik statis sesaat."Dapat, Bos," jawab Anton. Suara peretas kepercayaannya itu terdengar berat dan serak. Kentara sekali ia belum beranjak dari depan layar komputernya sejak semalam suntuk. "Bos benar. Sistem pengenal wajah mengonfirmasi fotonya. Namanya Victor Huang. Mantan paramiliter yang sekarang beroperasi di area abu-abu. Spesialisasinya ekstraksi target dan spionase korporat tingkat tinggi."Arka mengalihkan pandangannya ke arah siluet bedeng proyek di kejauhan. "Dia orang mahal. Tidak masuk akal orang dengan kaliber seperti dia mau menginjak lumpur Ciloto cuma untuk menyamar jadi mandor bangunan.""Itu kesimpulanku juga.""Clara," timpal Arka tanpa ragu. "Berapa banyak uang dari Lioncrest yang masuk ke rekeningnya?"Terdengar jeda yang cukup panjang dari ujung sana. Hanya ada suara angin yang mengisi keheningan d
Angin Ciloto di luar masih menderu kencang, tapi bagi Arka, dunia mendadak senyap.Telunjuknya yang menempel di atas mouse membeku. Pegangannya pada tepi meja kayu itu menguat hingga buku-buku jarinya memutih, satu-satunya tanda bahwa otaknya baru saja menerima hantaman telak.Anak perempuan seumuran TK.Satu nama langsung meledak di kepalanya: Gendhis. Target mereka bukan dirinya. Bukan Nia. Tapi Gendhis.Nia menahan napas. Ia bisa melihat perubahan itu. Punggung suaminya yang tadinya rileks kini tegak kaku. Saat Arka menoleh perlahan menatapnya, tidak ada amarah yang meledak-ledak di matanya hanya ada kekosongan yang dingin dan kelam. Tatapan yang jauh lebih mengerikan."Mas..." panggil Nia parau. Ia meraih punggung tangan suaminya. Dingin sekali.Sentuhan Nia membuat Arka memejamkan mata kuat-kuat. Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan dari mulut. Saat matanya kembali terbuka, kepanikan yang sempat melintas telah ia kunci rapat-rapat. Pria itu
"Dapat," serak Arka. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin pegunungan Ciloto yang menghantam bilik bambu kontrakan mereka, namun kilat matanya menyiratkan kemenangan.Di sudut ruang tiga kali tiga itu, pendar biru dari layar laptop mencetak tegas rahangnya. Ruangan sempit itu penuh dengan aroma kopi hitam dan fluks solder yang menyengat.Nia yang di desa ini dikenal dengan nama Sulastri merapatkan pintu kamar Gendhis tanpa suara. Ia menarik kerah jaket rajutnya untuk menghalau udara dingin, lalu melangkah pelan menghampiri meja kerja suaminya."Tembus ke server proyeknya, Mas?" bisik Nia. Tangannya memijat pelan bahu Arka yang kaku. Selama tiga hari ini, pria yang membangun Adhiguna Group dari nol itu praktis tak memejamkan mata."Nggak langsung," Arka bersandar, membiarkan sentuhan istrinya mengurai sedikit ketegangan di lehernya. "Jaringan utama mereka rapi, garapan profesional. Kalau aku paksa masuk pakai laptop rongsokan ini, alarm mereka pasti bunyi."Arka menggeser kursor, m
"Anak Ibu sudah pulang. Capek ya, Nduk? Yuk, cuci tangan, cuci kaki, terus bobo siang," bujuk Sulastri lembut, menuntun Gendhis masuk ke dalam rumah.Rudi memarkirkan motor, mengunci gembok pagar, lalu melangkah menyusul istri dan anaknya. Debu proyek dari jalan utama masih menempel tebal di jaketnya, namun pikirannya sudah melesat jauh meninggalkan urusan perbengkelan.Setengah jam kemudian, setelah memastikan napas Gendhis teratur di bawah embusan kipas angin kamar, Sulastri menutup pintu rapat-rapat. Ia berjalan ke ruang tengah. Suaminya sudah duduk menunggunya di atas karpet plastik, bersandar pada meja TV reyot.Di atas meja kecil, dua gelas teh tawar hangat dibiarkan utuh. Udara di ruangan itu terasa berat, sisa-sisa ketegangan yang tertahan sejak insiden sarapan tadi pagi kini menuntut untuk diurai.Sulastri duduk bersila di hadapan suaminya. Tatapannya lurus, tanpa sisa senyum ramah yang ia pakai seharian di warung."Gendhis pulas," lapor Sulastri pelan. Ia langsung merangsek
Dua minggu berlalu secepat ayunan beliung di udara.Pelebaran jalan utama Ciloto telah mencapai tahap pengecoran awal. Debu aspal yang dibongkar, raungan mesin molen, dan teriakan instruksi telah menjadi lagu wajib setiap pagi. Namun, seperti prediksi para kuli tempo hari, warung tenda biru milik Sulastri yang menumpang di pelataran rumah Pak Kadir kini resmi menjadi markas logistik tak resmi para pekerja PT Indo Megah Jaya.Pagi itu, keempat meja panjang terisi penuh.Sesuai janji, para kuli membawa atasan mereka. Di sudut meja, duduk seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan kemeja flanel dan helm putih bertuliskan "Pengawas Lapangan". Namanya Haris, mandor utama yang membawahi puluhan pekerja kasar di sektor jalan."Gila, bener kata lu pada. Ini bumbu tauconya nendang bener!" puji Mandor Haris, menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya. Ia mengacungkan jempol ke arah Sulastri yang sedang sibuk memotong tahu. "Pantesan lu pada ogah makan jatah katering, di mari ada makanan ke
Deru mesin diesel menggetarkan tanah Ciloto. Truk-truk raksasa merayap pelan, meninggalkan tirai debu kecokelatan yang pekat di udara pagi. Sebulan berlalu sejak ekskavator pertama membongkar aspal jalan utama, mengubah lanskap desa yang damai menjadi medan perang konstruksi yang bising.Namun, sekitar dua puluh meter menjorok ke dalam gang, di balik pagar tanaman teh-tehan yang menahan invasi debu, warung terpal biru Sulastri berdiri kokoh di pelataran rumah Pak Kadir.Pagi itu, pelanggan Geco Bu Lastri berubah wajah.Separuh bangku kayu panjang itu kini tak lagi diisi bapak-bapak bersarung, melainkan pria-pria berbadan liat dengan kaus lusuh basah keringat dan rompi hijau stabilo kotor. Sepatu bot karet mereka meninggalkan jejak lumpur kering di lantai semen. Mereka adalah kuli bangunan dari luar kota, tenaga kasa
Dia menepuk debu di celananya dengan santai. Postur tubuhnya tegak kembali. Aura dominasinya kembali menyala, membuat Dirga yang berdiri di sebelahnya tiba-tiba terasa kerdil."Baiklah kalau itu maumu, Mantan Istriku,"
Rumah itu hening. Terlalu hening.Arka baru saja melangkah keluar dari ruang kerjanya setelah menyelesaikan panggilan video dengan tim investor. Jam dinding digital menunjukkan pukul sebelas malam. Seharusnya, Nia sudah tidur. Dokter berpesan agar Nia tidak boleh stres dan harus banyak istirahat di
Dua minggu kemudian Ruang sidang Pengadilan Agama itu terasa sesak, jauh lebih sesak dari yang seharusnya. Udara berpendingin ruangan gagal mengusir hawa panas yang menguar dari puluhan tubuh yang berdesakan di kursi pengunjung. Kilatan lampu blitz kamera sesekali menyambar, diikuti bunyi shutter ya
Dua minggu telah berlalu sejak mediasi yang gagal itu. Waktu terasa berjalan lambat, seperti tetesan air kran yang bocor di tengah malam mengganggu dan membuat gelisah.Di luar tembok rumah mereka, dunia sedang bersiap untuk pertunjukan besar. Pengacara Arka, Pak Bramantyo, sibuk menyusun strategi u







