Share

Bab 314

Author: Millanova
last update publish date: 2026-03-22 21:11:10

"Sudah pulang Pak RT-nya, Mas?" tanya Sulastri. Tangannya dengan cekatan memungut gelas bekas kopi dan piring kecil sisa camilan dari atas meja servis.

Rudi menoleh, memamerkan selembar kertas berlaminating di tangannya.

"Sudah, Las. Cuma mampir sebentar buat kasih ini," jawab Rudi santai, meletakkan kertas itu ke atas meja.

Sulastri meliriknya sekilas sambil menumpuk gelas kotor ke atas nampan. "Jadwal siskamling? Wah, Mas Rudi kebagian ronda sekarang?"

"Iya. Pak RT merombak jadwal karena bany
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 323

    Angin Ciloto di luar masih menderu kencang, tapi bagi Arka, dunia mendadak senyap.Telunjuknya yang menempel di atas mouse membeku. Pegangannya pada tepi meja kayu itu menguat hingga buku-buku jarinya memutih, satu-satunya tanda bahwa otaknya baru saja menerima hantaman telak.Anak perempuan seumuran TK.Satu nama langsung meledak di kepalanya: Gendhis. Target mereka bukan dirinya. Bukan Nia. Tapi Gendhis.Nia menahan napas. Ia bisa melihat perubahan itu. Punggung suaminya yang tadinya rileks kini tegak kaku. Saat Arka menoleh perlahan menatapnya, tidak ada amarah yang meledak-ledak di matanya hanya ada kekosongan yang dingin dan kelam. Tatapan yang jauh lebih mengerikan."Mas..." panggil Nia parau. Ia meraih punggung tangan suaminya. Dingin sekali.Sentuhan Nia membuat Arka memejamkan mata kuat-kuat. Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan dari mulut. Saat matanya kembali terbuka, kepanikan yang sempat melintas telah ia kunci rapat-rapat. Pria itu

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 322

    "Dapat," serak Arka. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin pegunungan Ciloto yang menghantam bilik bambu kontrakan mereka, namun kilat matanya menyiratkan kemenangan.Di sudut ruang tiga kali tiga itu, pendar biru dari layar laptop mencetak tegas rahangnya. Ruangan sempit itu penuh dengan aroma kopi hitam dan fluks solder yang menyengat.Nia yang di desa ini dikenal dengan nama Sulastri merapatkan pintu kamar Gendhis tanpa suara. Ia menarik kerah jaket rajutnya untuk menghalau udara dingin, lalu melangkah pelan menghampiri meja kerja suaminya."Tembus ke server proyeknya, Mas?" bisik Nia. Tangannya memijat pelan bahu Arka yang kaku. Selama tiga hari ini, pria yang membangun Adhiguna Group dari nol itu praktis tak memejamkan mata."Nggak langsung," Arka bersandar, membiarkan sentuhan istrinya mengurai sedikit ketegangan di lehernya. "Jaringan utama mereka rapi, garapan profesional. Kalau aku paksa masuk pakai laptop rongsokan ini, alarm mereka pasti bunyi."Arka menggeser kursor, m

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 321

    "Anak Ibu sudah pulang. Capek ya, Nduk? Yuk, cuci tangan, cuci kaki, terus bobo siang," bujuk Sulastri lembut, menuntun Gendhis masuk ke dalam rumah.Rudi memarkirkan motor, mengunci gembok pagar, lalu melangkah menyusul istri dan anaknya. Debu proyek dari jalan utama masih menempel tebal di jaketnya, namun pikirannya sudah melesat jauh meninggalkan urusan perbengkelan.Setengah jam kemudian, setelah memastikan napas Gendhis teratur di bawah embusan kipas angin kamar, Sulastri menutup pintu rapat-rapat. Ia berjalan ke ruang tengah. Suaminya sudah duduk menunggunya di atas karpet plastik, bersandar pada meja TV reyot.Di atas meja kecil, dua gelas teh tawar hangat dibiarkan utuh. Udara di ruangan itu terasa berat, sisa-sisa ketegangan yang tertahan sejak insiden sarapan tadi pagi kini menuntut untuk diurai.Sulastri duduk bersila di hadapan suaminya. Tatapannya lurus, tanpa sisa senyum ramah yang ia pakai seharian di warung."Gendhis pulas," lapor Sulastri pelan. Ia langsung merangsek

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 320

    Dua minggu berlalu secepat ayunan beliung di udara.Pelebaran jalan utama Ciloto telah mencapai tahap pengecoran awal. Debu aspal yang dibongkar, raungan mesin molen, dan teriakan instruksi telah menjadi lagu wajib setiap pagi. Namun, seperti prediksi para kuli tempo hari, warung tenda biru milik Sulastri yang menumpang di pelataran rumah Pak Kadir kini resmi menjadi markas logistik tak resmi para pekerja PT Indo Megah Jaya.Pagi itu, keempat meja panjang terisi penuh.Sesuai janji, para kuli membawa atasan mereka. Di sudut meja, duduk seorang pria paruh baya berkumis tebal dengan kemeja flanel dan helm putih bertuliskan "Pengawas Lapangan". Namanya Haris, mandor utama yang membawahi puluhan pekerja kasar di sektor jalan."Gila, bener kata lu pada. Ini bumbu tauconya nendang bener!" puji Mandor Haris, menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya. Ia mengacungkan jempol ke arah Sulastri yang sedang sibuk memotong tahu. "Pantesan lu pada ogah makan jatah katering, di mari ada makanan ke

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 319

    Deru mesin diesel menggetarkan tanah Ciloto. Truk-truk raksasa merayap pelan, meninggalkan tirai debu kecokelatan yang pekat di udara pagi. Sebulan berlalu sejak ekskavator pertama membongkar aspal jalan utama, mengubah lanskap desa yang damai menjadi medan perang konstruksi yang bising.Namun, sekitar dua puluh meter menjorok ke dalam gang, di balik pagar tanaman teh-tehan yang menahan invasi debu, warung terpal biru Sulastri berdiri kokoh di pelataran rumah Pak Kadir.Pagi itu, pelanggan Geco Bu Lastri berubah wajah.Separuh bangku kayu panjang itu kini tak lagi diisi bapak-bapak bersarung, melainkan pria-pria berbadan liat dengan kaus lusuh basah keringat dan rompi hijau stabilo kotor. Sepatu bot karet mereka meninggalkan jejak lumpur kering di lantai semen. Mereka adalah kuli bangunan dari luar kota, tenaga kasa

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 318

    Dua minggu berlalu sejak Arka memutuskan untuk mengunci rapat-rapat kecurigaannya soal investasi dari Singapura itu.Pagi itu, rutinitas di mulut gang rumah kontrakan mereka berjalan seperti biasa, namun dengan ritme yang sedikit lebih cepat. Kabut sisa semalam masih menggantung tipis di udara Ciloto, bercampur dengan kepulan uap dari panci tauco Sulastri. Waktu menunjuk pukul tujuh lewat. Antrean pembeli Geco sudah mulai menyusut setelah jam sibuk keberangkatan anak sekolah berlalu.Rudi baru saja selesai menumpuk piring-piring plastik kotor ke dalam ember saat sosok yang familier berjalan tergesa-gesa menghampiri lapak mereka."Alhamdulillah masih nyisa. Bu Lastri, bungkus satu, ya! Nggak usah pakai kerupuk merah," seru Pak Asep dari kejauhan. Ketua RT itu tampak mengenakan seragam safari khaki khas pegawai desa, menenteng map plastik berisi tumpukan kertas."Siap, Pak RT! Tumben pagi-pagi sudah rapi pakai seragam kelurahan? Mau ada rapat?" sapa Sulastri ramah, tangannya langsung ce

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 169

    Senin pagi, pukul 06.15 WIB.Gedung Adhiguna Tower masih sunyi. Lampu-lampu koridor utama belum dinyalakan sepenuhnya, hanya lampu darurat yang memberikan pencahayaan remang. Cleaning service bahkan belum mulai bekerja di lantai eksekutif.Namun, Arka sudah ada di sana.Dia tidak masuk ke ruanganny

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 163

    Siang harinya, di Kantor Adhiguna.Arka baru saja selesai meeting internal. Dia memanggil Anton ke ruangannya."Ton, kosongkan jadwalku hari Sabtu depan. Kita akan adakan acara tujuh bulanan di rumah.""Siap, Tuan. Apa perlu saya hubungi Event Organizer langganan?""Hubungi EO untuk dekorasi dan te

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   bab 158

    "Saudara Ruslan Wijaya," ucap salah satu polisi, menunjukkan surat penangkapan. "Anda kami tahan atas dugaan berlapis: Penyekapan, Percobaan Pembunuhan Berencana, Penggelapan Aset, dan Pemalsuan Dokumen.""TIDAK! INI JEBAKAN! PENGACARA! LAKUKAN SESUATU!" Ruslan berteriak histeris saat tangannya dit

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 164

    Arka mengerutkan kening. Insting waspadanya menyala. "Sudah dipindai keamanannya?""Sudah, Tuan. Bukan bom, bukan bahan kimia berbahaya. Isinya sepertinya pakaian atau kain. Aman secara fisik."Nia yang mendengar itu menoleh antusias. "Dari teman lama? Siapa ya? Mungkin teman SMA-ku dulu?"Nia meng

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status