Nia mengangguk kaku, berbalik, dan berjalan cepat kembali ke dapur. Arka ingin berteriak, ingin mengejarnya, ingin mengatakan bahwa ini semua jebakan. Tetapi tangan Clara masih menggenggam tangannya erat, dan di atas meja, foto USG itu menatapnya seperti mata hakim yang tak berkedip.Air yang diteguk Arka terasa hambar, nyaris sulit melewati kerongkongannya yang seakan menyempit. Di hadapannya, Clara tampak berseri-seri, wajahnya memancarkan rona kebahagiaan yang bagi orang awam terlihat seperti pregnancy glow, namun bagi Arka terlihat seperti kepuasan predator yang baru saja kenyang."Habiskan makanannya, Arka," ujar Clara lembut, namun nada memerintah itu masih terasa di sana. Dia menunjuk piring Arka dengan dagunya. "Kamu akan butuh banyak energi. Menjadi ayah siaga itu melelahkan, lho."Arka memaksakan diri menyuap beberapa sendok lagi, meski perutnya bergejolak. Setiap kali garpunya berdenting di piring, dia teringat pada Nia yang kini terisolasi di dapur, mungkin sedang menangis
Terakhir Diperbarui : 2025-11-27 Baca selengkapnya