Ke esokan harinya, pagi itu dipecahkan oleh rengekan Clara yang tidak biasa. Bukan rengekan kesakitan, melainkan rengekan manja yang menuntut, jenis yang membuat Arka harus menarik napas panjang sebelum memasang topeng "suami siaga"-nya."Aku tidak mau bubur ayam, Arka," tolak Clara, mendorong mangkuk yang baru saja disajikan Nia. Dia duduk bersandar di tumpukan bantal sofa, wajahnya masam. "Rasanya hambar. Teksturnya membuatku mual.""Tapi kamu harus makan, Sayang," bujuk Arka sabar, duduk di tepi sofa. "Dokter bilang...""Lupakan apa kata dokter soal bubur!" potong Clara. Matanya menerawang, lidahnya menyapu bibir seolah membayangkan rasa tertentu. "Aku mau sesuatu yang... rich. Sesuatu yang lumer di mulut, gurih, berlemak, tapi lembut."Arka mengerutkan kening. "Daging wagyu?""Bukan," Clara menggeleng cepat. "Itu terlalu berserat. Aku mau... foie gras."Arka terdiam. Hati angsa? Di pagi buta seperti ini?"Clara, ini Jakarta, bukan Paris. Dan ini masih jam delapan pagi. Di mana aku
Last Updated : 2025-12-02 Read more