หน้าหลัก / Romansa / Sentuhan Pria Dewasa / Chapter 109 Kantor With Arsya

แชร์

Chapter 109 Kantor With Arsya

ผู้เขียน: Polcaa
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-08 14:27:42

Pagi itu rumah Arkana dan Narine tidak setenang biasanya. Jam baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit, tapi suara langkah kecil sudah terdengar berlarian dari kamar menuju ruang tengah.

“Papa! Papaaaa!”

Arkana yang baru saja keluar dari kamar dengan kemeja kerja setengah terpasang langsung berhenti di tengah langkah. Rambutnya masih sedikit berantakan, satu tangan memegang dasi yang belum diikat.

Seorang anak kecil berlari ke arahnya dengan langkah agak goyah tapi penuh semangat.

Arsya.

Usian
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 115 Day One Arsya Playgroup

    Pagi itu rumah Arkana dan Narine sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Jam dinding di ruang makan baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit, tapi Narine sudah mondar-mandir dari kamar ke dapur, dari dapur ke ruang tamu, membawa berbagai barang kecil yang menurutnya penting.Di atas meja makan ada sebuah tas kecil berwarna biru muda dengan gambar dinosaurus. Tas itu terbuka, dan Narine sedang memasukkan berbagai benda ke dalamnya dengan penuh perhatian. Botol minum kecil.Kotak camilan.Tisu basah.Baju ganti.Arkana berdiri di dekat meja sambil menggendong Arsya yang masih terlihat agak mengantuk. Rambut kecil anak itu sedikit berantakan, pipinya masih tembam, dan matanya setengah terbuka.Arkana menatap tas kecil itu dengan ekspresi seperti sedang melihat sesuatu yang terlalu serius.“Ini beneran perlu?” tanyanya.Narine bahkan tidak menoleh.“Perlu.”Arkana mengerutkan dahi.“Dia masih bayi.”Narine akhirnya berhenti memasukkan barang lalu menoleh ke suaminya

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 114 Ibu Sakit, Kepala Papa pusing

    Pagi itu rumah Arkana terasa lebih tenang dari biasanya, tapi bukan dalam arti yang menyenangkan. Biasanya, sejak subuh Narine sudah bangun, menyiapkan sarapan ringan atau sekadar duduk di meja makan sambil minum teh hangat. Namun hari ini, kamar mereka masih gelap dan sunyi.Arkana berdiri di sisi tempat tidur sambil menatap istrinya yang masih terbaring di bawah selimut. Wajah Narine terlihat sedikit pucat, dan rambutnya terurai berantakan di atas bantal.Arkana mengulurkan tangan dan menyentuh dahi istrinya.“Masih hangat,” gumamnya pelan.Narine membuka mata perlahan. Suaranya serak saat berbicara.“Cuma demam sedikit kok.”Arkana menghela napas.“Sedikit tapi tetap sakit namanya.”Narine tersenyum tipis.“Kamu kerja aja. Aku istirahat.”Arkana masih terlihat ragu. Ia tidak suka meninggalkan Narine saat kondisinya seperti ini.Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah pintu kamar.“Bu...”Keduanya menoleh bersamaan.Di sana berdiri Arsya dengan rambut aca

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 113 Proyek Adek Baru Gagal

    Setelah seharian dipenuhi suara langkah kecil, tawa, dan ocehan cadel seorang anak berusia dua tahun yang tidak pernah benar-benar bisa diam, malam menjadi seperti hadiah. Lampu ruang keluarga redup, televisi hanya menyala tanpa suara, dan udara malam terasa lebih damai dari biasanya.Arsya akhirnya tidur. Butuh hampir empat puluh menit bagi Narine untuk membuat anak itu benar-benar terlelap. Mulai dari membaca buku bergambar yang sama tiga kali, menyanyikan lagu yang bahkan Narine sendiri sudah lupa liriknya, sampai mengelus rambut halus Arsya yang akhirnya membuat matanya tertutup perlahan.Sekarang pintu kamar Arsya sudah tertutup.Dan untuk pertama kalinya hari itu, rumah benar-benar sunyi di jam 8 malam karena biasanya Arsya belum bisa tidur.Arkana menjatuhkan tubuhnya ke sofa seperti orang yang baru selesai lari maraton.“Damai banget si mbul tidur” gumamnya dramatis.Narine yang duduk di sebelahnya hanya melirik sambil tersenyum kecil. Ia masih memegang ponselnya, tapi perhat

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 112 Jatuh Bangun

    Cahaya biru dari kaca raksasa aquarium menyelimuti lorong panjang tempat Narine, Arkana, dan Arsya berjalan. Air yang bergerak pelan membuat bayangan ikan-ikan besar melintas di atas kepala mereka. Anak-anak kecil di sekitar berlarian sambil menunjuk-nunjuk kaca, tapi yang paling heboh justru Arsya.Anak kecil berusia dua tahun itu berjalan dengan langkah yang masih agak goyah. Kakinya pendek, jalannya sedikit oleng ke kiri ke kanan, tapi wajahnya penuh semangat.“Paaah!” Arsya menunjuk kaca besar dengan jari kecilnya. “Ikannn!”Arkana yang berjalan di sampingnya melirik santai.“Iya itu ikan,” jawabnya. “Papah juga tahu itu ikan.”Arsya langsung mendekat ke kaca sampai hampir menempel.“Ikannn becal banget!” katanya lagi dengan suara cadel.Seekor ikan pari besar melintas di depan kaca, membuat Arsya melonjak kecil karena terlalu senang.Narine yang berjalan di belakang mereka tertawa pelan.“Lucu banget sih,” katanya.Arkana mengangkat alis. “Lucu banget ya? Ini anak 100% Arkana DNA

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 111 Drama Toddler

    Malam sudah cukup larut ketika rumah Arkana dan Narine akhirnya benar-benar sunyi. Lampu kamar sudah dimatikan, pendingin ruangan berdengung pelan, dan dari ranjang kecil di sisi tempat tidur mereka terdengar napas halus Arsya yang sedang terlelap.Namun berbeda dengan dua penghuni rumah lainnya, Arkana justru terbangun.Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar dengan wajah datar.Perutnya berbunyi.“Krrrkk…”Arkana mengerjap, lalu menghela napas panjang.“Astaga… kenapa malah lapar sih jam segini,” gumamnya pelan.Ia melirik ke samping. Narine tidur nyenyak dengan posisi memeluk bantal. Sementara Arsya meringkuk lucu di kasur kecilnya, pipinya tembam dan rambutnya sedikit berantakan.Arkana bangkit pelan dari tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara.“Masak sendiri aja deh, tidur yang nyenyak sayang,” gumamnya sembari mencium kepala Narine dan mengusap anaknya.Ia berjalan keluar kamar dengan langkah hati-hati lalu menuju dapur. Lampu dapur dinyalakan setengah tera

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 110 Perdebatan Kecil

    Hari itu adalah hari Sabtu yang jarang sekali benar-benar kosong di jadwal Arkana Rivard. Tidak ada meeting, tidak ada panggilan klien mendadak, dan untuk pertama kalinya setelah sekian minggu, Narine berhasil memaksa suaminya untuk benar-benar meninggalkan laptop kerja.Arkana masih duduk di sofa ruang keluarga dengan tablet di tangannya ketika Arsya datang berlari kecil sambil membawa mainan ikan plastik.“Papa! Papa!”Arkana menurunkan tabletnya sedikit.“Iya?”Arsya mengangkat mainan ikan itu tinggi-tinggi.“Ikaaaan calmon!”Narine yang sedang duduk di karpet sambil merapikan mainan langsung tersenyum.“Aku ada ide,” katanya santai.Arkana mengangkat alis.“Apa?”“Kita ajak Arsya ke aquarium.”Arkana menoleh.“Aquarium?”Arsya langsung melonjak kecil.“Ikaaaan!”Narine tertawa.“Tuh kan, dia setuju.”Arkana menatap anaknya beberapa detik. Arsya masih memegang ikan plastiknya sambil menatap penuh harap.“Ikan besal papa?” tanya Arsya.Arkana mengangguk kecil.“Iya. Ikan besar.”Ars

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status