Seeyana bangun dengan rasa pegal di bahu kanan. Bukan pegal karena posisi tidur, melainkan karena kebiasaan baru: menahan diri terlalu lama dalam satu posisi secara harfiah dan emosional. Ia duduk perlahan, meraba ponsel di meja samping ranjang. Tidak ada pesan baru. Jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit.Di luar, kota belum sepenuhnya sadar. Suara kendaraan jarang, lampu-lampu masih menyala tanpa tujuan selain menunggu pagi. Seeyana berdiri, membuka tirai setengah. Cahaya pucat masuk, cukup untuk memperlihatkan pantulan dirinya di kaca: wajah yang rapi, mata yang tidak sepenuhnya lelah, tapi juga tidak sepenuhnya tenang.Ia ke dapur tanpa menyalakan lampu. Membuat teh kali ini, bukan kopi. Air panas mengepul, uapnya menabrak kaca jendela dan menghilang. Ada hal-hal yang tampak besar saat malam, lalu mengecil saat pagi dan sebaliknya.Alya muncul beberapa menit kemudian, rambut masih diikat asal. “Kamu bangun cepat.”“Tidurku ringan,” jawab See
Last Updated : 2026-02-18 Read more