Pagi menyusup tanpa banyak suara. Seeyana terbangun sebelum alarm, menatap langit-langit beberapa detik, memastikan pikirannya benar-benar kembali ke tubuhnya. Ada sisa percakapan semalam yang belum sepenuhnya reda bukan karena kata-katanya, melainkan karena jeda di antaranya. Jeda yang jujur sering kali meninggalkan gema lebih panjang.Ia bangun, merapikan ranjang, lalu ke dapur. Alya belum keluar kamar. Seeyana menyeduh kopi sendiri, aroma pahitnya membentuk rutinitas yang menenangkan. Di meja kecil dekat jendela, ia membuka kalender. Hari ini tampak padat, tapi tidak menyesakkan. Ia menandai satu agenda dengan garis tipis ‘klarifikasi lanjutan’. Bukan rapat besar. Bukan keputusan final. Hanya satu pertemuan yang bisa menggeser nada banyak hal.Di perjalanan, radio tak sengaja memutar lagu lama lagu yang dulu sering ia dengar tanpa benar-benar mendengar. Ia mematikannya, memilih suara kota seperti klakson, langkah kaki, napasnya sendiri. Seeyana tiba di kantor de
Last Updated : 2026-02-24 Read more