Seeyana tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Lorong masih lengang, lampu-lampu menyala setengah, dan suara langkahnya sendiri terdengar terlalu jelas di lantai. Ia meletakkan tas di meja, menyalakan komputer, lalu berhenti sejenak bukan karena ragu, melainkan karena menyadari satu hal sederhana: ia tidak sedang mengejar apa pun pagi ini.Ia membuka email, membaca sekilas, lalu menutupnya kembali. Tidak ada yang mendesak. Tidak ada api yang harus dipadamkan. Keadaan itu seharusnya menenangkan, tapi justru memunculkan kegelisahan kecil, seperti kehilangan pegangan yang selama ini diam-diam ia andalkan.Ketika rapat dimulai, Seeyana duduk dengan posisi yang sama seperti biasanya—tegak, tenang, hadir sepenuhnya. Namun kali ini ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Orang-orang lain mengisi ruang dengan argumen, strategi, dan rencana lanjutan. Ia mencatat seperlunya, sesekali mengangguk, sesekali mengajukan pertanyaan singkat yang tepat sasaran.“Pen
Last Updated : 2026-02-25 Read more