Masuk“Berhenti.”
Suara Clarisa sendiri membuat Arkan menekan rem mendadak. Mobil berhenti dengan decitan tajam di tengah jalan sepi menuju kawasan industri barat.Arkan menoleh cepat. “Apa?”Clarisa menatap layar tablet di tangannya.Rekaman terakhir yang mereka tonton tadi yang menunjukkan gudang dan sandera—ia putar ulang dalam kecepatan lambat.“Ini,” bisiknya.Arkan mendekat.Di sudut layar, tepat sebelum video terputus, ada pantul“Berhenti.”Suara Clarisa sendiri membuat Arkan menekan rem mendadak. Mobil berhenti dengan decitan tajam di tengah jalan sepi menuju kawasan industri barat.Arkan menoleh cepat. “Apa?”Clarisa menatap layar tablet di tangannya.Rekaman terakhir yang mereka tonton tadi yang menunjukkan gudang dan sandera—ia putar ulang dalam kecepatan lambat.“Ini,” bisiknya.Arkan mendekat.Di sudut layar, tepat sebelum video terputus, ada pantulan kecil di permukaan logam.Siluet.Bukan satu orang.Dua.Salah satunya memiliki postur dan potongan rambut yang sangat familiar.Jantung Clarisa berdetak lebih keras, “Itu bukan bibi,” katanya pelan.Arkan mengangguk. “Aku tahu.”“Tapi itu juga bukan direktur.”Arkan menatap lebih tajam.Clarisa memperbesar gambar.Wajah di kursi itu memang buram. Tapi garis rahangnya. Bentuk hidungnya.Terlalu
Jam digital di layar ruang kerja menunjukkan 52:13.Waktu terus berjalan.Clarisa berdiri di depan meja kerja Arkan, membuka laci rahasia yang selama ini hanya ia lihat sekali. Tangannya bergerak cepat, tapi pikirannya jauh lebih cepat.“Kita tidak tahu lokasi asli bibi,” katanya tanpa menoleh. “Tapi kita tahu pola mereka.”Arkan berdiri di belakangnya, memantau layar tablet yang menampilkan pergerakan timnya. “Mereka ingin aku datang sendiri. Itu berarti sandera utama bukan direktur itu.”“Direktur hanya distraksi,” balas Clarisa. “Emosi kita diarahkan ke dua titik. Gudang pelabuhan dan rumah.”Arkan mengangguk tipis.“Kalau aku Raka,” lanjut Clarisa pelan, “aku akan memastikan kita memilih yang salah.”Sunyi sesaat.Lalu Arkan bertanya, “Menurutmu mana yang salah?”Clarisa menutup laci, menatapnya.“Pelabuhan.”Arkan terdiam.“Kenapa?”“Karena terlalu jelas
Ponsel Arkan berdering tepat ketika mereka turun dari mobil.Nama yang muncul di layar membuat rahangnya menegang.Rumah.Arkan langsung mengangkatnya. “Ya.”Suara di seberang terdengar panik. “Tuan… sistem keamanan rumah utama baru saja offline. Lima menit lalu. Kami tidak bisa mengakses CCTV.”Darah Clarisa seakan surut dari wajahnya.“Siapa yang bertugas?” tanya Arkan tajam.“Semua penjaga masih di pos, tapi jaringan seperti diputus dari dalam.”Diputus dari dalam.Arkan menutup telepon tanpa menjawab lebih lanjut.“Rumah?” tanya Clarisa pelan, walau ia sudah tahu jawabannya.Arkan mengangguk. “Tahap dua.”Tanpa membuang waktu, mereka kembali masuk ke mobil.Sepanjang perjalanan, tidak ada suara selain deru mesin dan napas yang ditahan.Clarisa menatap jalan di depan, pikirannya bekerja cepat.“Kalau mereka memutus dari dalam, berarti ada orang ki
“Duduk.”Suara Raka tidak keras, tapi cukup untuk membuat mantan direktur itu kembali terduduk dengan tangan gemetar.Clarisa tidak bergerak.Tatapannya justru tertuju ke luar jendela.Dua pria keluar dari mobil hitam dan berdiri di sisi kendaraan Arkan. Sikap mereka santai—terlalu santai untuk sekadar kebetulan.Ponsel di tasnya bergetar sekali.Sinyal pendek.Kode.Arkan masih mengendalikan situasi.Sedikit.“Kamu membawa suamimu ke dalam wilayah yang salah,” ujar Raka pelan, lalu duduk di kursi yang tadi ditempati direktur itu. Seolah posisi kekuasaan berpindah begitu saja.Clarisa akhirnya kembali duduk. “Wilayah siapa? Bukankah ini tempat umum?”Raka tersenyum tipis. “Tidak ada yang benar-benar umum di kota ini.”Ia menggeser flashdisk di atas meja dengan satu jari. “Kamu benar-benar percaya pria tua ini berniat membantumu?”Mantan direktur itu menelan l
Brak!Pintu ruang kerja itu tertutup keras.Clarisa tersentak, bukan karena suara itu melainkan karena cara Arkan berdiri membelakanginya setelah panggilan tadi terputus. Bahunya kaku. Tangannya masih menggenggam ponsel terlalu erat.“Dia mau apa?” Clarisa akhirnya memecah sunyi.Arkan tidak langsung menjawab. Ia berjalan kembali ke meja, menekan tombol interkom. “Surya, batalkan semua jadwal malam ini. Dan minta tim keamanan cek rekaman CCTV kantor. Sekarang.”Nada suaranya datar, tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih mencekam.Clarisa melangkah mendekat. “Arkan.”Pria itu menoleh perlahan. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. “Dia mengklaim punya salinan dokumen dari brankas pribadiku.”Dada Clarisa mengencang. “Itu tidak mungkin. Akses ke brankas itu—”“Hanya aku dan kamu,” potong Arkan.Kalimat itu menggantung di udara seperti tuduhan tak terucap.Clarisa membeku sepers
Seeyana menutup pintu mobil dengan hati-hati, menatap ke sekeliling jalan yang sepi. Setiap suara deru kendaraan jauh, gemericik ranting pohon yang tertiup angin terasa lebih keras dari biasanya. Nalurinya berteriak, memberi tahu bahwa malam ini bukan sekadar malam biasa.Arlan duduk di sampingnya, tangan tetap menggenggam setir dengan tegang, matanya sesekali melirik ke spion. “Mereka pasti mengikuti,” katanya, tanpa perlu menatap Seeyana. Suaranya berat, penuh kepastian.Seeyana menghela napas, mencoba menenangkan diri, tapi jantungnya berdetak cepat. Ia menundukkan kepala, memeluk tasnya. “Kita harus kemana dulu?” tanyanya pelan.Arlan menggeser mobil pelan, menyalakan lampu jauh, dan menatap jalan yang gelap. “Ke tempat aman. Ada orang yang bisa kita percayai… tapi kita harus cepat. Sekalipun mereka tidak tahu persis, mereka sudah bergerak lebih cepat dari yang kita duga.”Setiap belokan, setiap lampu jalan yang menyala samar di malam hari mem







