“Bahkan ayahnya saja tidak mengakui, mengapa aku harus mengurusnya?”Suara parau dan sedikit bergetar terdengar keluar dari mulut sang Pria tua di depan jendela. Pria paruh baya yang berdiri di sampingnya terdiam. Bergeming di tempatnya sambil menundukkan kepala. Kemudian tanpa suara meninggalkan ruangan tersebut.Wajah pria tua yang tadinya menegang, perlahan melunak. Lalu dengan gerak slow motion, buliran bening dari sudut matanya luruh membasahi pipi. Ia menangis tanpa isak, merasakan kesedihan dan kesepian yang ia cipta sendiri atas nama sebuah ego.Pukul delapan pagi keesokan harinya, Thea sudah bersiap dan berdandan rapi. Ia tampak sibuk menatap lukisan buatannya. Hari ini ia akan bertemu dengan Erwin untuk melanjutkan pembahasan tempo hari.Alvan mengulum senyum melihat Thea yang bersemangat. Ini berbanding terbalik dengan sikapnya kemarin.“Babe, lukisanku gak jelek, kan?” tanya Thea.Alvan mendekat menatap lu
Read more