Elena semakin dibuat bingung oleh ucapan para pelayan tadi. Namun ia tak punya waktu untuk memikirkan Madi terlalu lama. Tujuannya malam ini jelas.Batu spiritual itu.Elena berhenti di sudut lorong yang gelap. Ia menutup matanya perlahan, mengatur napas, lalu membiarkan kekuatan dalam tubuhnya mengalir. Elemen cahaya bergetar halus, merambat seperti benang tipis yang tak kasatmata.Beberapa detik berlalu. Elena membuka matanya. “Paviliun depan .…” bisiknya.Tanpa ragu, ia bergerak.Dengan langkah ringan, Elena menghindari para penjaga yang berjaga malas. Saat satu penjaga berbalik, tubuh Elena sudah menempel di dinding. Ia memanjat perlahan, jarinya mencengkeram celah batu, lalu masuk melalui celah atas paviliun.Di dalam, Elena berjalan di atas balok-balok kayu penyangga atap. Setiap langkahnya nyaris tak bersuara.Dari atas sana, ia melihat Guru Maya.Wanita itu duduk di depan meja rendah, berbagai botol dan mangkuk ramuan tersusun rapi. Tangan Maya bergerak cepat, menumbuk, menuan
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-03 อ่านเพิ่มเติม