Keesokan paginya, bunyi gong menggema lantang di alun-alun Kekaisaran Solaria. Suaranya berat dan berulang, memecah udara pagi yang dingin. Satu demi satu rakyat berdatangan. Bangsawan, pejabat, hingga rakyat biasa memenuhi tempat eksekusi. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu bercampur amarah dan antusiasme.“Ini hari eksekusi Mahardika, ya?” bisik seorang rakyat.“Pantas ramai begini,” sahut yang lain. “Pejabat kotor harus dihukum.”Di barisan depan, keluarga Adipati Dirgantara juga hadir. Adipati Dirgantara berdiri tegak, diapit Rangga dan Ringga. Kanaya menggenggam tangannya sendiri dengan gelisah.“Ayah,” bisik Kanaya pelan, “kenapa rasanya suasananya aneh?”Adipati Dirgantara menatap panggung eksekusi tanpa menjawab. Alisnya sedikit berkerut.Tak lama, seorang kasim melangkah ke depan panggung. Di tangannya tergenggam gulungan dekrit bersegel emas. Ia membuka gulungan itu, lalu berseru dengan suara nyaring.“Dengan izin dan atas dekrit Kaisar Solaria,” ucapnya lantang, “hari ini
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-20 อ่านเพิ่มเติม