Pagi itu, halaman Akademi Pedang Langit sudah dipenuhi para murid yang datang lebih awal. Angin pagi bertiup ringan, menggerakkan jubah-jubah seragam yang berwarna biru dan putih.Kereta Kanaya berhenti di depan gerbang utama. Begitu ia turun, beberapa murid langsung memberi salam hormat, tentu mereka hormati karena Kanaya adalah calon tunangan putra mahkota Daniel.Kanaya baru saja melangkah beberapa langkah ketika seseorang berdiri di depannya.“Selamat pagi, Kanaya.”Suara itu lembut, penuh kehangatan yang sudah lama tidak ia dengar.Kanaya tertegun.Di hadapannya berdiri Putra Mahkota Daniel, mengenakan hanfu kebesaran berwarna biru, dengan lambang Solaria di dadanya. Wajahnya tersenyum bukan senyum formal, melainkan senyum yang terasa tulus.Kanaya yang sempat terkejut langsung menunduk malu-malu. “Yang Mulia .…” suaranya terdengar lembut.Dalam hati, jantungnya berdebar penuh kemenangan.Ramuan itu berhasil. Tadi malam, ia menyelinap masuk ke kediaman Daniel, bahkan berhasil men
Read more