Share

Bab. 157

Penulis: Yu.Az.
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 00:06:15
Di dalam kereta kuda, suasana terasa hening. Roda kereta berderak pelan menyusuri jalan batu, sementara tirai tipis bergoyang tertiup angin sore. Elena duduk bersandar, pandangannya kosong menatap ke luar jendela.

Pikirannya berputar. ‘Seharusnya aku baru bertemu Luna satu tahun lagi. Kenapa semuanya jadi dipercepat?’

Jantungnya berdegup pelan. Ada rasa tak nyaman yang merayap, seperti alur takdir yang mulai melenceng dari ingatannya. Elena menggelengkan kepala perlahan, berusaha mengusir bayangan-bayangan masa lalu yang kembali menghantui.

‘Cukup. Aku tidak akan terjebak lagi.’

Di seberangnya, Caspian memperhatikan perubahan kecil di wajah Elena. Alisnya berkerut tipis.

“Kau baik-baik saja, Elena?” tanyanya akhirnya.

Elena tersentak dari lamunannya, lalu menoleh. Ia mengangguk ringan. “Ya. Tentu saja.”

Namun Caspian tidak sepenuhnya percaya. Tatapannya tajam namun lembut.

“Apa kau memikirkan gadis bernama Luna itu?”

Elena langsung menatap Caspian. Sorot matanya berubah wasp
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 166

    Kanaya menggeleng cepat, wajahnya menunjukkan penolakan yang keras. Matanya sedikit membesar, napasnya terdengar lebih cepat dari biasanya.“Tidak,” katanya lantang. “Aku tidak percaya. Nyonya Mina hanya mengatakan itu untuk menolong Elena saja, bukan?”Ia menoleh ke arah Mina, tatapannya penuh tekanan. “Nyonya, Anda terlalu baik. Anda pasti kasihan padanya.”Tiara segera menimpali dengan nada menyudutkan. “Benar, Nyonya Mina. Jangan terlalu memanjakan pekerja. Kalau begini, mereka akan besar kepala dan bertindak semena-mena terhadap pemilik toko yang sebenarnya.”Tari mengangguk setuju. “Hari ini dia merusak kain mahal, besok bisa saja dia mengusir kami semua.”Fani mendecak pelan. “Kami tidak bodoh. Mustahil seorang gadis seperti Elena adalah pemilik toko sebesar ini.”Bisik-bisik kembali terdengar di antara para pegawai. Ada yang ragu, ada yang mulai mengernyitkan dahi, ada pula yang menatap Kanaya dengan pandangan tak lagi sepenuhnya percaya.Mina menghela napas panjang. Raut waja

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 165 Pemilik Sebenarnya

    Gelas itu jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring. Teh hangat memercik, membasahi lantai dan menyiram hanfu rancangan Elena yang diletakkan di samping meja..Kanaya mundur setengah langkah, wajahnya pucat seolah terkejut. “Kak Elena .…” ujarnya dengan menutup mulitnya. “Kenapa kau ceroboh sekali?”Elena menatap hanfu yang basah itu sejenak. Lalu ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tetap tenang. Namun udara di dalam toko terasa berubah.Suasana toko hanfu itu yang semula tenang mendadak berubah ricuh.Cairan teh yang masih hangat membasahi kain hanfu mahal berwarna biru langit. Uap tipis mengepul, sementara noda kecokelatan menyebar dengan cepat di permukaan kain yang jelas belum sempat dipotong dan dijahit.“Astaga! Apa-apaan ini?!”Tiara adalah yang pertama berteriak. Matanya membelalak, wajahnya memerah menahan amarah. Ia langsung berdiri dan menatap Elena seolah ingin menerkamnya.“Kau buta, ya? Atau memang sengaja?!” bentaknya tajam.Tari ikut berdiri, menyilangkan tan

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 164

    Di dalam kamar asrama Elena, suasana terasa gelisah.Cani mondar-mandir tanpa tujuan jelas, langkahnya kecil namun cepat, sesekali berhenti lalu berjalan lagi. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar mandi, tempat sang nona masih membersihkan diri. Wajahnya penuh kebimbangan, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di ujung lidah.Suara pintu kamar mandi akhirnya terbuka.Elena keluar dengan langkah tenang. Rambut hitamnya masih sedikit lembap, tergerai di punggung. Ia mengenakan hanfu berwarna hijau muda, sederhana namun membuat kulitnya tampak semakin cerah. Wajahnya bersih tanpa rias, sorot matanya tetap tajam seperti biasa.Cani langsung sigap. “Nona, silakan duduk.”Elena menurut, duduk di depan meja rias. Cani berdiri di belakangnya, mulai menyisir rambut sang nona dengan hati-hati, jemarinya bergerak lembut agar tidak menarik helai rambut sedikit pun.Beberapa kali Cani membuka mulut, lalu menutupnya lagi.Elena menangkap kegelisahan itu dari pantulan cermin.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 163 Rasa Familiar

    Elena tidak langsung menurunkan pedangnya. “Erland? Dan kau pikir aku harus percaya begitu saja?” Erland terkekeh kecil. “Kalau aku berniat jahat, aku tidak akan duduk santai makan apel di atas pohon.” Cani mendengus pelan. “Itu alasan yang aneh.” Erland melirik Cani, lalu kembali menatap Elena. “Percaya atau tidak, terserah.” Pria tampan berlesung pipi itu kembali berkata, “Aku hanya terlalu tertarik dengan latihan kalian.” Mata Elena sedikit menyipit, namun pedangnya belum bergeser. “Orang biasa tidak bisa menghindari tombak esku.” Erland tersenyum makin lebar. “Itu pujian?” Elena hanya diam tak menjawab ucapan pria di depannya itu. Suasana di belakang Akademi Pedang Langit masih tegang. Pedang Elena belum sepenuhnya menjauh dari leher pria bernama Erland itu, sementara Cani berdiri siaga di belakang nona mudanya. Sret! Tiba-tiba sebuah bayangan melesat cepat dari arah pepohonan. Kilatan baja berpendar di udara, mengarah lurus ke Elena. Cani refleks bergerak. “Berani seka

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 162 Erland

    Keesokan paginya, suasana istana Kekaisaran Solaria tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Gerbang utama terbuka lebar, barisan penjaga berdiri tegak dengan baju zirah berkilau diterpa cahaya matahari pagi.Di aula depan, Kaisar Noah berdiri di barisan terdepan. Di sampingnya Permaisuri Jenika dengan senyum anggun, sementara Putra Mahkota Daniel berdiri sedikit di belakang, sikapnya yang tenang.Beberapa pejabat tinggi ikut hadir, termasuk Adipati Dirgantara yang berdiri dengan sikap formal.Tak lama kemudian, iring-iringan tamu dari Kekaisaran Kaelum memasuki halaman istana.Kaisar Ethan melangkah turun terlebih dahulu, wajahnya tenang dan penuh wibawa. Di sisinya, Permaisuri Lola berjalan anggun dengan senyum lembut, diikuti para pengawal dan pejabat mereka.Kaisar Noah maju selangkah dan tersenyum formal. “Selamat datang di Kekaisaran Solaria, Yang Mulia Kaisar Ethan, Yang Mulia Permaisuri Lola.”Kaisar Ethan membalas senyum itu dan sedikit menundukkan kepala. “Terima kasih atas sa

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 161

    Di sisi lain kota, malam semakin larut.Kanaya mengenakan jubah tebal yang menutupi kepalanya rapat-rapat. Ia melangkah masuk ke sebuah kedai mewah yang tampak biasa dari luar, namun dijaga ketat secara tersembunyi.Ia mendekati pelayan dengan langkah anggun. Suaranya dibuat lebih rendah dari biasanya.“Bunga mawar.”Pelayan itu menatapnya sesaat, lalu langsung mengangguk paham. “Sebelah sini, Nona.”Kanaya diantar melewati lorong sempit menuju sebuah pintu kayu bertanda angka lima. Setelah pintu dibuka, Kanaya masuk. Pelayan itu menunduk hormat lalu menutup pintu rapat-rapat.Di dalam ruangan, seorang wanita paruh baya telah menunggu.Kanaya langsung melepas penutup kepalanya. “Ibu!” serunya lirih. “Aku merindukanmu.”Permaisuri Lola segera berdiri dan memeluk putrinya erat. “Ibu juga merindukanmu, sayang.”Kanaya membenamkan wajahnya di bahu sang ibu.“Bagaimana di kediaman ayahmu?” tanya Permaisuri Lola sambil mengusap rambut Kanaya. “Adipati Dirgantara memperlakukanmu dengan baik?

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status