Kereta kuda mulai bergerak meninggalkan hiruk-pikuk pasar.Roda kayunya berderit pelan menyusuri jalan berbatu. Tirai tipis di sisi kereta bergoyang tertiup angin pagi, membawa sisa aroma rempah dan debu yang masih menempel di pakaian mereka.Di dalam kereta, suasana tidak setenang di luar. Cani menyilangkan tangan di dada, wajahnya masih merah karena kesal.“Kak Mina,” gerutunya, “kenapa kau menghalangi aku tadi?”Mina yang duduk di seberangnya sedang merapikan kantong beras yang sempat tumpah. Jemarinya bergerak pelan, berusaha terlihat tenang.“Menghalangi apa?”“Harusnya aku beri pelajaran yang lebih besar lagi pada wanita sombong itu,” desis Cani. “Berani sekali dia menghina kita seperti itu.”Mina mengangkat wajahnya. Ada kelegaan tipis di matanya karena mereka sudah jauh dari pasar. Namun di balik itu, terselip ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.“Itu akan menimbulkan masalah yang lebih besar,” ucapnya pelan.“Masalah?” Cani mendengus. “Dia yang mulai duluan.”Mina menggele
Dernière mise à jour : 2026-02-26 Read More