“Pantas saja dia begitu hebat ternyata bermain kotor,” ujar Lily pelan, suaranya bercampur antara terkejut dan tidak percaya.Matanya masih terpaku ke arah arena, mengikuti setiap gerakan yang baru saja terjadi. Napasnya terasa sedikit berat, seolah apa yang ia lihat barusan belum sepenuhnya bisa ia cerna.Ia menoleh perlahan ke arah Elena yang berdiri tak jauh darinya. “Apa ini yang kau maksud kejutan itu?” tanyanya, alisnya mengernyit dalam.Elena hanya tersenyum tipis, senyum yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.“Ini masih pemanasan,” jawab Elena ringan, seakan apa yang terjadi di arena hanyalah permainan kecil baginya. Sorot matanya kembali turun ke bawah, dingin dan penuh perhitungan.Lily terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Di bawah arena, suasana berubah kacau. Hinaan demi hinaan mulai terdengar dari berbagai arah, menghantam telinga Kanaya tanpa ampun.Tubuh gadis itu gemetar hebat, bahunya bergetar dan napasnya tersengal, seolah beban y
Read More