Suasana di kediaman Adipati Dirgantara yang sebelumnya sunyi karena fajar baru saja menyingsing kini berubah kacau.Para penjaga berlari ke halaman dengan senjata terhunus, para pelayan berdiri cemas di kejauhan, sementara pintu ruang kerja Rangga hancur berantakan akibat benturan keras tadi.Di tengah halaman, Rangga tergeletak di tanah. Debu masih menempel di pakaiannya, rambutnya berantakan, dan darah menetes dari sudut bibirnya. Ia batuk keras lalu memuntahkan seteguk darah.“Ugh!”Pada saat yang sama terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah dalam rumah utama.Seorang pria paruh baya dengan aura wibawa berjalan cepat ke arah keributan itu. Di sampingnya ada seorang wanita anggun dengan wajah penuh kekhawatiran, serta dua pemuda dan seorang gadis yang ikut berlari di belakang mereka.Mereka adalah Adipati Dirgantara, istrinya Nyonya Andini, serta anak-anak mereka, Ringga dan Kanaya.Adipati Dirgantara berhenti begitu melihat kondisi halaman itu.Matanya langsung membesar ketik
Read more