Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis, menimpa wajah Nayel yang masih setengah terlelap di sisi ranjang. Alaire sudah bangun lebih dulu, duduk di tepi ranjang sambil menatap punggungnya yang naik-turun perlahan. Ia tersenyum kecil — ada sesuatu yang menenangkan dalam cara Nayel tidur, tenang tapi rapuh, seolah waktu ikut melambat.“Bangun, kalau tidak, sarapanmu keburu dingin,” bisik Alaire, menggoyangkan bahu Nayel pelan.“Lima menit lagi,” gumam Nayel tanpa membuka mata.“Lima menitmu bisa berubah jadi satu jam.”“Dan kau tetap akan menungguku,” jawabnya setengah malas, tapi bibirnya tersenyum.Alaire tertawa kecil. “Benar juga.”Ia berdiri, berjalan ke dapur. Bau roti panggang dan telur memenuhi rumah kecil itu. Semua terasa sederhana — tak ada mesin canggih, tak ada layar berpendar, hanya aroma mentega dan suara spatula beradu dengan panci.Beberapa menit kemudian, Nayel muncul dengan rambut acak-acakan dan kaus longgar. “Kau mencuri tugasku pagi ini,” katanya sambil menguap.
Last Updated : 2025-10-25 Read more