Pagi itu, aroma kopi memenuhi seluruh dapur.Alaire berdiri di depan kompor, mengaduk adonan panekuk dengan satu tangan sambil membaca pesan di ponselnya. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya sibuk menelusuri layar.Sementara itu, Nayel turun dari tangga, rambutnya masih agak berantakan, tapi kemejanya sudah rapi. Ia menyampirkan jas di pundak sambil memerhatikan istrinya dari belakang.Sesaat, ia hanya berdiri di sana, menikmati pemandangan sederhana itu cahaya matahari pagi yang jatuh di rambut Alaire, gerakan kecil tangannya, dan aroma manis madu yang baru dituangkan.“Pemandangan terbaik sebelum rapat,” katanya akhirnya.Alaire menoleh sedikit dan tersenyum. “Kau belum minum kopi.”“Aku lebih suka aroma yang datang dari sini.”Nayel menunjuk ke arah wajan, tapi matanya jelas mengarah ke Alaire.Alaire mendengus kecil, pura-pura tak peduli. “Gombal di pagi hari, Tuan Arvanden?”“Bukan gombal, hanya observasi jujur,” jawabnya santai.Ia berjalan mendekat, mencium pipi istrinya sek
Last Updated : 2025-10-27 Read more