Pagi itu, aroma tumisan bawang memenuhi dapur.Alaire berdiri di depan kompor, rambutnya diikat asal, celemeknya miring, dan spatula di tangannya menari cepat.Ia sudah tiga kali mencoba membuat resep baru yang katanya “sederhana” dari internet.Hasilnya? Dua kali gosong, satu kali terlalu asin.“Sekali lagi,” gumamnya dengan nada setengah frustasi. “Kali ini harus bisa.”Tepat saat itu, pintu dapur terbuka, dan Nayel muncul dengan wajah mengantuk, kemeja masih belum dikancing sempurna.“Kenapa dapurnya seperti habis perang?” tanyanya, suaranya serak tapi masih terdengar menyebalkan bagi Alaire.“Ini eksperimen sarapan,” jawab Alaire cepat.“Eksperimen yang menimbulkan korban jiwa?”“Diam. Aku serius.”Nayel berjalan mendekat, menatap wajan yang mengepul. “Ini apa?”“Omurice.”“Bentuknya mirip lumpur.”Alaire menoleh dengan wajah kesal. “Kau bisa makan di luar kalau tidak suka.”“Tidak, tidak,” Nayel langsung mundur satu langkah, tangannya terangkat. “Aku suka lumpur… maksudku omurice
Last Updated : 2025-11-02 Read more