Sudah dua minggu sejak Nayel menerima undangan dari Helios.Dan sejak hari itu, ritme rumah mereka mulai berubah tanpa disadari.Nayel berangkat lebih pagi dari biasanya, pulang lebih malam, dan sering kali membawa tumpukan berkas ke ruang kerja.Alaire mencoba memahami, tapi semakin lama semakin sulit membedakan apakah ia sedang bersabar… atau sedang menunggu sesuatu yang tidak akan dijelaskan.Pagi itu, ia duduk di meja makan sendirian.Roti panggangnya sudah dingin, kopi di cangkir pun kehilangan uapnya. Di kursi seberang, tempat Nayel biasa duduk, hanya tersisa kemeja kerja yang tergantung di sandarannya.Ia menatap benda itu lama, lalu berbisik pelan, “Kau mulai menjauh lagi, Nayel…”Suara pintu kamar terdengar, Nayel muncul sambil mengenakan jas abu tua dan menyampirkan dasi di bahunya.“Pagi,” katanya singkat.“Pagi,” jawab Alaire datar, mencoba tersenyum. “Kau tidak sempat sarapan?”“Ada rapat pukul delapan. Aku harus berangkat sekarang.”“Rapat lagi?” Nada suaranya nyaris tak
Last Updated : 2025-10-28 Read more