LOGINKeheningan malam itu turun seperti kabut lembayung yang lembut. Langit di atas Bandung tidak lagi gelap, tapi berkilau oleh ribuan cahaya kecil yang menari perlahan, seperti partikel bintang yang jatuh tanpa gravitasi.Saat itu Arjuna berdiri di depan Pohon Layung, tangannya tampak menyentuh batang bercahaya itu dengan hati-hati.“Larisa,” katanya pelan, “kau dengar?”Larisa mendekat, menajamkan pendengarannya. Suara lembut terdengar dari dalam batang pohon, bukan suara nyanyian, bukan angin, melainkan sesuatu yang lebih halus, seperti gema dari masa yang belum pernah ada.“Itu…” bisik Larisa, “seperti suara detak jantung… tapi bukan dari bumi.”Arjuna mengangguk perlahan. “Itu suara waktu.”Larisa menatapnya kaget. “Waktu… berdenyut?”“Ya.” Arjuna menatap langit yang kini berlapis warna ungu, biru, dan keemasan.“Bumi sudah hidup, rasa sudah bangun.Sekarang giliran waktu yang mulai mengingat dirinya sendiri.”Bersamaan dengan itu di seluruh kota, jam-jam berhenti berdetak. Namun an
Ketika itu subuh datang tanpa suara. Langit di atas Bandung tampak seperti lembaran air, tenang dan bercahaya lembut.Pohon Layung yang berdiri tegak di tengah kota daunnya tampak berkilau, seperti ribuan matahari kecil yang memantulkan warna emas pucat ke sekeliling taman.Larisa berdiri di tepi taman, menggenggam sebuah batu kecil, itu adalah pecahan cahaya dari batang pohon. Batu itu terluhat berdenyut halus, dan setiap denyutnya seolah menyatu dengan detak jantungnya sendiri.“Juna,” bisiknya, “rasanya… seperti bumi bernafas di dalamku.”Arjuna berdiri di sampingnya, matanya memandangi ujung langit. Udara pagi terasa berbeda, lebih berat, namun menenangkan.“Larisa,” katanya pelan, “itu karena bumi memang sedang berbicara melalui kita semua.”Larisa menatapnya heran. “Berbicara?”“Ya.” Arjuna mengangguk perlahan. “Pesan dari tanah sudah mulai menyebar.Bukan lewat kata, tapi lewat rasa yang menular ke setiap hati manusia.”Beberapa kilometer dari sana, di kawasan Cimenyan, Raksa
Malam itu Bandung terasa begitu sunyi.Bukan karena semua tidur, tapi karena seluruh kota sedang mendengarkan sesuatu, sebuah irama lembut yang datang dari arah Taman Layung.Cahaya keemasan menyemburat dari sana, membentuk lengkung halus di langit seperti sayap yang sedang membuka.Larisa yang berdiri di balkon apartemennya tampak menatap arah cahaya itu dengan dada berdebar. Ia bisa merasakan sesuatu memanggilnya,bukan dengan suara, tapi dengan rasa yang menekan lembut di dalam hatinya.“Juna,” panggilnya. “Pohon itu… berubah.”Arjuna muncul dari ruang dalam, mata dan langkahnya tenang, seperti sudah tahu apa yang terjadi.“Ya,” katanya pelan. “Pohon itu mulai membuka dirinya.”Larisa menatapnya, matanya cemas.“Apakah ini akhir, Juna?”Arjuna tersenyum samar. “Tidak, Larisa.Ini awal dari kebenaran yang selama ini bumi sembunyikan.”Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah tiba di Taman Layung. Raksa, Ratih, dan Nagara sudah menunggu di sana. Cahaya dari pohon Layung kini begi
Fajar menembus jendela dengan warna lembayung yang lebih pekat dari biasanya.Udara terasa hangat seperti tubuh bumi baru saja bernapas lebih dalam.Larisa terbangun dari tidurnya di apartemen kecilnya di Dago bersamaan dengan suara samar terdengar dari luar. Bukan suara kendaraan, bukan burung,melainkan sesuatu yang mirip nyanyian lembut dalam bahasa yang tak ia kenal.Ia berdiri di balkon, memandangi kota yang masih diselimuti kabut pagi.Namun kali ini, kabut itu bergerak seperti hidup,menggambarkan pola spiral di udara, menari di antara gedung-gedung seperti roh yang bermain.“Juna,” bisiknya, “kau merasakannya?”Dari dalam ruangan, terdengar suara Arjuna menjawab pelan. “Ya.Bandung sedang bangun, bukan dari tidur, tapi dari ingatan.”Larisa menoleh dan melihat Arjuna berdiri di dekat meja, tangan kirinya menyentuh batu kecil berwarna biru, potongan dari Layung Rasa yang dulu ia bawa dari Gunung Rakata. Cahaya lembutnya tampak memancar dari batu itu setiap kali Arjuna berbicara.
Kali ini pagi di Bandung tak lagi sekadar pergantian waktu. Kabut lembayung jingga turun perlahan dari utara, menyelubungi kota dengan cahaya lembut seperti sutra basah.Bangunan-bangunan modern di Dago, Braga, hingga Lembang tampak berpendar samar, seolah cahaya dalam batu, semen dan kaca mencoba berbicara setelah lama diam.Saat itu Larisa berjalan di sepanjang Jalan Braga, langkahnya pelan. Setiap kali ia melewati tembok tua, udara di sekitarnya bergetar lembut, muncul bayangan samar, bukan hantu, tapi potongan kenangan. Bayangan itu berupa seorang pelukis tua sedang menggores kanvas, seorang perempuan membawa bunga melati dan anak-anak Sunda berlarian di jalan batu, tertawa kecil.Ia berhenti di depan sebuah kafe yang kini tutup. Dindingnya memantulkan pantulan samar wajah Ratu Rahayu Pajajaran, ia tampak tersenyum lembut yang seakan mengawasinya dari balik waktu.Larisa menatap refleksi itu dalam diam.“Rasa mulai menulis lagi,” gumamnya.Suara langkah mendekat dari belakang.Arj
Ketika itu fajar turun di atas dataran tinggi Bandung dengan warna yang tak pernah terlihat sebelumnya, dimana langit tampak tidak hanya berwarna jingga atau biru,tetapi berlapis-lapis seperti lukisan air. Dihiasi warna lembayung jingga, keemasan, hijau muda dan biru kabut yang menenangkan mata. Kabut pun bahkan seakan menari di antara gedung-gedung dan pepohonan,seolah kota itu sendiri sedang bermimpi.Larisa membuka jendela kamarnya perlahan. Udara yang masuk tak lagi dingin menusuk seperti dulu, tapiada kehangatan lembut yang menempel di kulit, seakan bumi menyalurkan napasnya lewat angin.Di bawah sana, Bandung telah berubah.Jalanan tak lagi dipenuhi suara klakson atau deru kendaraan yang keras. Manusia berjalan pelan, dengan wajah tenang.Beberapa orang berhenti di taman hanya untuk menatap matahari, seolah mereka sedang berbicara dalam diam dengan dunia.Larisa menatap itu semua dengan hati yang penuh rasa syukur. Ia teringat ucapan Arjuna beberapa waktu lalu:“Ketika bumi m







