Malamnya, Ravika menghubungi Tama.“Alya kirim surat ke aku, Mas,” katanya pelan.Tama terdiam di ujung telepon.“Apa isinya?”“Bukan marahan, sih.”“Hmm... terus apa?”“Dia bilang terima kasih.”"Terima kasih...?" ulang Tama heran.Hening beberapa detik menjeda.Tama mengembuskan napasnya perlahan.“Tentang apa?” lanjutnya. Ravika menatap meja di depannya yang terdapat buku-buku Elyra yang masih berserakan. Ia lalu memotret surat tulsan Alya dan mengirimkannya ke Tama. Tama membacanya dengan seksama. Dadanya menghangat. "Itu memang tulisan Alya, Vik."“Aku nggak tahu harus apa jawabnya, Mas.”“Tidak semua surat butuh balasan, Vik,” jawab Tama.Di rumahnya, Tama duduk sendirian setelah menutup telepon dari Ravika.Ia mengenal Alya.Ia tahu mantan istrinya bukan orang yang mudah mengakui sesuatu.Jika ia menulis surat seperti itu, berarti ia sudah melewati fase marahnya sendiri.-oOo- Keesokan paginya, Karin menemukan Alya duduk di teras rumahnya."Mamaaaa... Kok Mama ada di sini?"
최신 업데이트 : 2026-02-21 더 보기