Di rumah lama, sore menjelang dengan suara panci beradu dengan irus sayur.Tama sedang belajar memasak sesuatu yang sangat sederhana. Mi kuah, tapi tanpa terlalu banyak bumbu. Karin duduk di belakang meja mengerjakan tugas sekolahnya. Sony jongkok di lantai, menyusun mobil-mobilan yang baru dibelikan Tama siang tadi.“Pa,” kata Karin tiba-tiba, “besok Papa jemput aku ke sekolah, kan?”“Iya.”“Pakai motor?”“Iya.”“Helmku yang biru, ya.”“Iya,” jawab Tama lagi.Sony mengangkat satu mobil. “Papa, ini mobil balap kan?”“Mirip.”“Kalau Papa balapan sama Mama, Papa menang nggak?”Pertanyaan itu keluar begitu saja. Tidak ada niat. Tidak ada jebakan dari seorang anak kecil. Tama berhenti sebentar.“Papa nggak balapan sama Mama,” katanya akhirnya. “Papa sama Mama sekarang jalannya udah beda.”Sony berpikir, lalu mengangguk kecil. “Kalau jalannya beda, nanti ketemu lagi kan?”Tama tersenyum tipis. “Kadang ketemu. Kadang cuma saling tahu aja, Nak."Sony tampak puas dengan jawaban itu. Ia kemba
続きを読む