Pagi datang dengan suara yang sama seperti kemarin.Sendok berdenting, beradu dengan piring, suara air mengalir dari kran kamar mandi, dan detak jam dinding yang bergerak konstan. Ravika duduk di sebuah meja kecil di kamarnya, ia membuka buku catatan medis Elyra. Tanggal kontrol lagi, dosis obat dan jam Elyra meminumnya. Ia menandai satu per satu dengan pulpen biru.Marno berdiri di dekat kompor di dapur. “Yang jam sepuluh jangan lupa,” serunya tanpa menoleh ke arah kamar Ravika. “Iya, Yah.”Elyra masih setengah tiduran di atas sofa butut, kepalanya bersandar pada bantal besar.“Ma,” gumamnya, “hari ini Papa masih jujur, nggak?”Ravika berhenti menulis. Ia menoleh dan tersenyum kecil.“Kayaknya masih, Sayang.”“Oh.” Elyra menguap. “Berarti dunia masih ribut dong.”“Sedikit.”“Biarin aja,” kata Elyra, lalu memejamkan matanya lagi.Ravika kembali ke catatannya.Di luar rumah kecil itu, dunia memang tidak berhenti berputar. Di rumah lamanya, Tama duduk di ruang tamu dengan jas tipis
Last Updated : 2026-02-05 Read more