Malamnya di rumah, saat Tama masuk ke kamar, Alya sudah menunggunya di tepi ranjang dengan segelas wine di tangannya.“Kita perlu bicara, Mas,” katanya datar.Tama menaruh jasnya. “Tentang apa?”“Perempuan di foto wisudamu.”Tama menegang. “Kamu nemu itu di mana?”“Di arsip keluarga. Di kantor, ruang komisaris.” Alya meneguk wine-nya, menatap suaminya dalam-dalam. “Aku gak peduli masa lalumu, Mas. Tapi aku gak mau masa lalu itu jadi masalah di keluarga ini di masa depan.”“Aku gak...”“Aku cuma mau kamu tahu,” potong Alya cepat, “Aku bisa mentoleransi banyak hal, tapi bukan skandal. Bukan sesuatu yang bisa mencoreng nama keluarga ini. Apalagi sampai berimbas ke Karin dan Sony.”Nada suaranya dingin, penuh strategi. Ia bukan berbicara sebagai istri yang cemburu, tapi sebagai pewaris yang mempertahankan benteng citra keluarga besar.Tama terdiam. “Kamu gak berubah ya, Alya.”“Dan kamu justru yang terlalu banyak berubah,” balas Alya tajam.Besoknya, Alya berangkat ke luar kota untuk alas
Terakhir Diperbarui : 2025-12-25 Baca selengkapnya