Ponsel Ravika bergetar saat ia sedang mengawasi anak-anak pulang di ambang pintu kelas. Getaran pertama. Ia abaikan. Lalu getaran kedua menyusul lebih panjang. Lalu notifikasi masuk bertubi-tubi, seperti hujan kecil yang jatuh di atap seng, tidak bersuara keras, tapi cukup untuk membuat hati gelisah.Ia baru membuka ponselnya ketika Elyra sudah dijemput sang Kakek, Marno, dan berlari kecil ke arah gerbang.Pesan pertama datang dari grup guru.Bu Ratih, kepala sekolah ngechat, "Bu Vika, tolong segera ke ruangan saya ya." Jantung Ravika turun setingkat.Ia melangkah cepat ke ruang kepala sekolah. Begitu pintu ditutup, Bu Ratih langsung memutar layar laptopnya ke arahnya.Sebuah foto memenuhi layar.Foto lama. Sangat lama.Dua mahasiswa berdiri di bawah pohon flamboyan kampus Salemba. Seorang laki-laki mengenakan kemeja putih, rapi, bersih. Seorang perempuan di sampingnya tersenyum lebar, rambutnya panjang, matanya masih belum belajar caranya menyembunyikan harapan.Di pojok foto, tan
Terakhir Diperbarui : 2026-01-07 Baca selengkapnya