Arumi menelan ludah dengan susah payah. Berusaha untuk menutupi gugup yang kian merajalela di dalam diri. Jari-jari tangannya terus saling tarik di atas pangkuannya. Seolah sedang berpikir, jawaban apa yang bisa dijadikan sebagai pelarian. “E … itu, Bun. Maksud Arumi, keluar-masuk ke dalam kamar. Kan … suara pintu berisik, Bunda. Jadinya Arum nggak bisa dengan nyaman. Gitu ….” Suara Arumi terdengar lirih, bahkan sangat-sangat lirih. “Oh, Bunda pikir apa yang keluar-masuk.” Viola tertawa kecil. Dari raut wajahnya, sepertinya perempuan paruh baya itu tahu, apa yang sebenarnya sedang Arumi bicarakan. Hanya saja, ia berpura-pura bodoh. Tidak ingin membuat sang menantu merasa tak nyaman lagi seperti semalam. “Nanti kalau Langit ada cuti, kalian ke Belanda ya? Arumi pasti belum pernah ke sana kan?” tanya Erlangga. “Heuh? Oh, belum, Ayah,” sahut Arumi dari jok belakang. Ia sedikit terperanjat, sebab pikirannya masih melalang buana entah kemana. “Saran yang bagus itu, Yah. Sekalian
Last Updated : 2026-01-15 Read more