Langit dan Arumi saling melempar pandang satu sama lain. Dahi keduanya tampak bertaut bingung. Tak lama, Langit pun kembali melihat kepada Viola.“Bun, kan tadi kami udah ….,” ucap Langit menggantung.Viola tampak diam sejenak. “Astaga! Iya, maaf, maaf, Bunda lupa. Aduh, ini kepala, maklum … faktor usia,” cicitnya. Ia lalu beralih pandang kepada Arumi. “Maaf ya, Sayang. Bunda beneran lupa.” “Iya, Bunda. Nggak apa-apa.” Arumi tersenyum canggung dan langsung menundukkan kepala. Di kursi lain, Erlangga tampak menyenggol pelan lengan istrinya. Sebuah gerakan yang bermakna ketidaksetujuan atas sikap istrinya yang tak disengaja itu.“Bunda gimana sih? Arumi pasti tersinggung Bunda tanya seperti itu,” bisik pria tua itu.“Ya, gimana, Yah. Bunda juga nggak sengaja. Sumpah, Bunda beneran lupa,” jawab Viola sama berbisiknya.Ruang makan itu seketika berubah menjadi hening yang menyesakkan. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen kini terdengar jauh lebih nyaring, seolah-olah s
Last Updated : 2026-01-06 Read more