Pagi itu studio latihan dipenuhi cahaya putih yang jatuh dari jendela tinggi. Lira berdiri di tengah ruangan, menarik napas panjang, lalu melangkah. Gerakannya mantap, bahunya tegak, tatapannya tidak lagi ragu seperti beberapa bulan lalu.Ringga memperhatikannya dari sudut ruangan, tangan bersedekap.“Cukup,” katanya akhirnya. “Istirahat sepuluh menit.”Lira tersenyum kecil. Ia mengambil handuk, menyeka peluh di pelipisnya, lalu duduk di lantai kayu yang dingin. Ringga menghampiri, kali ini tanpa wajah galak yang biasanya.“Belakangan kau jauh lebih stabil,” ucapnya. “Aku bahkan tidak perlu bentak-bentak lagi.”“Itu pujian, kan?” Lira terkekeh.Ringga mendengus. Lalu, tanpa basa-basi, ia bertanya, “Kau ada hubungan apa dengan Tuan William?”Handuk di tangan Lira berhenti bergerak.Ia menoleh. Tidak ada tuduhan di wajah Ringga. Hanya pengamatan tajam."Eh... apa maksudmu?""Jangan bohong," sergah Ringga. "Seluruh orang di mansion sudah bisa menduga kau ini ada apa-apa dengan Tuan Willi
Terakhir Diperbarui : 2025-12-18 Baca selengkapnya