Jenderal Shang menarik napas dalam-dalam, lalu akhirnya menurunkan tangannya ke atas senar kecapi. Petikan pertama terdengar rendah. Tidak terburu-buru, tidak berusaha memamerkan apa pun. Nada itu mengalir sederhana—tenang, berat, dan stabil seperti dirinya. Shen Liu Zi berhenti melangkah. Dia berdiri beberapa langkah di belakang jenderal, membiarkan alunan pertama merambat ke udara sore. Angin tipis menggeser dedaunan di halaman belakang, membuat suara kecapi seakan bercampur dengan desir alam. Nada kedua menyusul. Kali ini lebih panjang, lebih dalam. Shen Liu Zi menurunkan pandangannya sebentar, lalu perlahan memejamkan mata. Berikutnya. Tanpa aba-aba, tanpa perhitungan, dia akhirnya melangkah. Satu langkah ke samping, ujung gaunnya berayun lembut. Tangannya terangkat perlahan, mengikuti alur nada, bukan untuk memikat, melainkan seperti sedang berbicara pada musik itu sendiri. Gerakannya ringan, tidak kaku, tidak berlebihan, seolah tubuhnya sudah lama mengenal iram
Read more