Jenderal Shang kembali memunggunginya.Bantal guling diletakkan tepat di tengah. Lurus, tegas, seperti garis batas wilayah yang tak boleh dilanggar.Setelah itu, dia menarik selimut, memejamkan mata, dan napasnya kembali diatur pelan, stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja dipaksa berbagi ranjang.Shen Liu Zi berbaring kaku di sisi paling pinggir.Terlalu pinggir! Punggungnya hampir menggantung, seolah satu gerakan kecil saja akan membuatnya jatuh ke lantai. Tangan dan kakinya lurus, terlalu lurus, seperti jenazah yang disusun rapi. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar penginapan yang kusam—retakan halus di kayunya tampak seperti cabang-cabang hitam yang merambat.Dia berkedip, lagi, lagi.Tidak ada rasa kantuk sedikit pun.Kalimat jenderal Shang sebelumnya kembali terngiang jelas.Sekali saja kamu melewati bantal pembatas ini, kamu akan tahu akibatnya.Shen Liu Zi menelan ludah.“Ck,” decaknya rendah, nyaris tak bersuara. Namun, tubuhnya tetap tak berani
Read more