Shen Liu Zi melangkah keluar dari tenda dengan bungkusan kertas minyak di tangan. Hangatnya daging burung pegar panggang masih terasa menembus lapisan kertas tipis itu, menghangatkan telapak tangannya di tengah dinginnya musim dingin siang ini. Baru beberapa langkah keluar mencari Jenderal Shang, langkahnya perlahan melambat, karena di hadapannya banyak prajurit berbaris mengantre di depan dapur lapangan. Satu per satu maju menerima semangkuk bubur encer yang bahkan dari jauh pun tampak nyaris tanpa isi. Ada yang berdiri tegap, tubuh masih kuat. Ada pula yang berjalan tertatih dengan perban melilit lengan, bahu, bahkan kepala. Hebatnya tidak satu pun dari mereka mengeluh, melainkan sebaliknya—beberapa prajurit yang sudah menerima bagian mereka duduk di tanah, mengangkat mangkuk, lalu makan lahap seakan-akan yang dimakan mereka adalah makanan terlezat di dunia. “Cepat makan, nanti dingin!” “Ah, hari ini rasanya lebih enak!” “Kalau bisa nambah, aku sudah nambah tiga man
続きを読む