Pagi datang perlahan, dingin masih menggantung di udara penginapan. Cahaya matahari musim dingin menyelinap malas di sela atap-atap kayu, tidak hangat, hanya cukup untuk menandai bahwa hari telah berganti. Di dalam kamar, Shen Liu Zi sudah duduk rapi di dekat meja rendah. Lengannya terjulur di atas bantalan kain, telapak tangannya terbuka dengan posisi pergelangan kanan menghadap ke atas. Wajahnya tenang, meski sebelumnya dia agak khawatir karena sejak kejadian di kamar, jenderal Shang tak sekalipun menunjukkan barang hidungnya. Saat bersamaan, tabib wanita tua yang sama telah datang tepat waktu. Tanpa banyak kata, dia meletakkan sebuah bejana tanah liat di atas tungku kecil. Api arang menyala pelan, memanaskan cairan di dalamnya. Aroma herbal segera menyebar, lembut tapi menusuk, khas antara campuran akar kering, daun pahit, serta sesuatu yang getir sampai ke ujung hidung. Ketika uap tipis mengepul, tabib menguji suhu ramuan menggunakan ujung jarinya sendiri, lalu mengangguk p
Read more