Malam itu, gerbang utama kota Kekaisaran terbuka lebar. Obor-obor dinyalakan di sepanjang jalan utama, cahayanya berderet seperti garis api yang memanjang. Udara malam di musim dingin kian menggigit, tetapi suasana kota tidak sunyi, tidak ada yang tidur. Suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Pelan lalu semakin jelas, semakin berat, semakin banyak. Dari ujung jalan, seratus pasukan Gagak Hitam muncul satu per satu. Mereka semua menunggang kuda perang. Zirah hitam menutup dada dan bahu, jubah gelap berkibar pelan tertiup angin malam. Di punggung mereka tergantung busur, di pinggang pedang, di pelana terikat tombak pendek. Wajah-wajah itu tidak muda lagi. Banyak di antara mereka memiliki bekas luka di pipi, di leher, di tangan. Menandakan pasukan ini bukan pasukan baru. Di barisan paling depan, komandan Miao Feng memimpin. Tubuhnya tegap di atas kuda hitam besar. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya tenang, tapi sorot matanya keras seperti batu. Begitu pasukan memasuki pusat
Read more