Davin melonggarkan pelukannya, lalu merogoh benda pipih itu dengan sedikit enggan. Begitu melihat layar yang menyala, keningnya berkerut. “Sebentar, Mama menelepon,” ujarnya. Dina mengangguk, lalu sedikit menggeser posisi duduknya untuk memberi jarak, memberikan ruang bagi Davin agar bisa berbicara dengan ibunya dengan tenang. “Kamu sudah tidur, Nak?" Suara Veronika terdengar lembut di seberang telepon.“Belum, Ma," jawab Davin singkat. Jemarinya bergerak pelan, menyisipkan anak rambut Dina ke balik telinga dengan penuh kasih, seolah mencoba mengabadikan momen tenang ini.“Mama mengganggu waktumu?”“Tidak, Ma. Ada apa?” jawab Davin tanpa melepas pandangan dari Dina. “Begini, besok malam pulanglah ke rumah. Ada hal penting yang ingin Mama dan Papa sampaikan kepadamu. Ini tentang kelanjutan rencana pernikahanmu dengan Natania.”Seketika tangan Davin yang tadi membelai wajah Dina terhenti di udara. Ia masih menatap wanita di depannya, namun binar hangat di matanya padam seketika. Sen
Last Updated : 2026-01-11 Read more