Dina menghirup aroma Davin untuk terakhir kalinya. Detak jantung pria itu yang berdegup kencang di telinganya terasa seperti irama yang paling menyakitkan. Ia ingin menyerah, ingin menumpahkan segala ketakutannya di sana, tapi bayangan wajah Arka dan nasib orang tuanya mendadak muncul seperti hantaman realitas yang dingin.Dengan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki, Dina mendorong dada Davin. Ia melepaskan diri dari dekapan itu seolah-olah pelukan Davin adalah jerat yang mematikan.“Cukup, Mas. Jangan seperti ini,” suara Dina keluar dengan getaran yang berusaha ia tekan. Ia mundur dua langkah, menciptakan jarak.Davin terpaku, tangannya masih menggantung di udara, mencoba menggapai kekosongan yang ditinggalkan Dina.“Dina, kamu kenapa, sih? Ada apa sebenarnya? Aku minta maaf kalau tadi aku keterlaluan, tapi tolong jangan seperti ini.”Dina menghapus air mata di pipinya dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak kelemahan yang tersisa. Saat ia kembali mendongak, binar matanya telah
Last Updated : 2025-12-21 Read more