Share

Bab 83

Author: Novi R
last update publish date: 2026-02-01 21:57:39

Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap di sela tirai, menyentuh dinding kamar seperti tangan yang ragu-ragu membangunkan seseorang. Anggi terjaga sebelum alarm, kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia berbaring beberapa detik, mendengarkan napas Rendra di sampingnya—teratur, tapi sedikit lebih berat dari biasanya.

Ia bangun pelan, menutup pintu kamar tanpa bunyi. Di dapur, ia menyalakan air untuk teh, bukan kopi. Tubuhnya terasa ingin sesuatu yang lebih lembut hari itu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Luka di Ujung Senja   Bab 122

    Waktu terus berjalan, tapi kali ini Rafa tidak lagi merasa seperti sedang mengejar sesuatu. Hari-hari datang dan pergi dengan tenang. Tidak selalu ringan, tidak selalu mudah, tapi tidak lagi terasa menekan. Ia mulai menjalani rutinitas tanpa banyak pertanyaan di kepala. Bangun pagi. Berangkat sekolah. Duduk di kelas. Tertawa dengan teman. Kadang diam di Sudut Napas. Kadang langsung pulang. Sederhana. Dan justru karena itu… terasa utuh. — Suatu pagi, saat ia sedang bersiap berangkat, Rafa berhenti di depan dua papan itu lagi. Bukan karena kebiasaan. Lebih seperti… refleks yang lembut. Ia melihat papan lama. Tulisan-tulisan yang dulu terasa berat kini terlihat seperti catatan perjalanan. Tidak lagi menyakitkan. Tidak lagi menekan. Hanya… bagian dari cerita. Lalu ia melihat papan kedua. Lebih tenang. Lebih ringan. Seperti napas yang sudah tidak terburu. Ia tidak mengambil spidol. Tidak menulis apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, seperti menyapa sesuatu yang suda

  • Luka di Ujung Senja   Bab 121

    Hari-hari terus berganti Tidak ada lagi rasa mendesak seperti dulu. Tidak ada lagi perasaan harus segera melakukan sesuatu agar semuanya “baik-baik saja”. Rafa mulai hidup dengan ritme yang lebih tenang—bukan karena semua masalah hilang, tapi karena ia tidak lagi memikul semuanya sendiri. Suatu pagi, sebelum berangkat sekolah, Rafa berdiri agak lama di depan dua papan itu. Ia tidak membaca semua tulisan. Tidak juga mencari sesuatu. Ia hanya berdiri. Melihat. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ia tidak lagi datang ke papan itu karena butuh—tapi karena ingin. Itu perbedaan yang kecil. Tapi berarti. — “Ibu,” panggilnya pelan. Anggi keluar dari dapur. “Hm?” “Aku hari ini nggak kepikiran apa-apa.” Anggi tersenyum kecil. “Itu bukan hal buruk.” Rafa mengangguk. “Dulu aku kira kalau kepala kosong itu berarti aku nggak peduli.” “Sekarang?” “Sekarang… mungkin itu berarti aku lagi istirahat.” Anggi mendekat, merapikan kerah baju Rafa sedikit. “Dan kamu berhak untuk

  • Luka di Ujung Senja   Bab 120

    Waktu berjalan Tidak ada peristiwa besar yang menandai perubahan, tidak ada kejadian yang membuat semuanya terasa berbeda dalam satu hari. Tapi justru di situlah sesuatu tumbuh—pelan, diam, dan menetap. Rafa mulai jarang berdiri lama di depan papan. Bukan karena ia tidak peduli lagi. Tapi karena ia tidak lagi butuh memastikan dirinya “baik-baik saja” setiap waktu. Kadang ia hanya lewat, membaca sekilas, lalu lanjut. Dan itu cukup. — Suatu pagi di sekolah, Rafa datang lebih awal. Gerbang masih setengah terbuka, halaman belum ramai. Ia berjalan pelan menuju Sudut Napas. Tempat itu kosong. Seperti biasanya di pagi hari. Ia duduk di kursi, meletakkan tas di sampingnya. Udara masih dingin. Dan untuk beberapa menit, ia hanya duduk tanpa tujuan. Tidak menunggu siapa pun. Tidak memikirkan apa pun. Hanya… ada. Langkah kaki terdengar dari jauh. Rafa menoleh. Ternyata Arman. “Kamu pagi banget,” kata Arman sambil duduk di sebelahnya. “Iya… lagi pengen aja,” jawab Rafa. Mere

  • Luka di Ujung Senja   Bab 119

    Beberapa hari setelah papan kedua mulai terisi, rumah itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara drastis, tapi karena kini ada dua arah untuk melihat. Satu papan penuh—dengan tulisan yang saling tumpang tindih, jejak emosi yang sudah pernah dilalui. Satu lagi masih lapang—memberi ruang untuk hal-hal yang belum terjadi. Rafa sering berdiri di tengah-tengahnya. Melihat ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti membaca masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas. — Suatu sore, ia pulang lebih awal dari biasanya. Sekolah selesai cepat karena ada rapat guru. Rumah masih sepi. Anggi belum pulang dari pasar. Rendra masih di kantor. Rafa membuka pintu, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai ruang tengah. Tidak menyalakan TV. Tidak membuka ponsel. Ia hanya duduk. Awalnya terasa canggung. Lalu pelan-pelan… biasa. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap papan lama. Matanya berhenti di satu tulisan yang hampir pudar: “Hari ini aku nggak

  • Luka di Ujung Senja   Bab 118

    Beberapa hari setelah itu, suasana sekolah kembali seperti biasa. Tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada tepuk tangan. Tapi sesuatu tetap tertinggal. Bukan di aula. Melainkan di cara orang-orang saling memandang. Lebih pelan. Lebih sadar. — Rafa mulai merasakannya dari hal kecil. Saat ia berjalan di koridor, beberapa siswa yang dulu hanya lewat kini mengangguk kecil. Bukan seperti mengenal dekat, tapi seperti tahu—“aku pernah dengar kamu.” Ia tidak merasa jadi pusat perhatian. Dan itu melegakan. Ia tetap Rafa. Hanya saja… sedikit lebih terlihat. — Di Sudut Napas, perubahan itu juga terasa. Tidak drastis. Tapi ada lebih banyak kertas di kotak. Lebih banyak yang datang—meski tidak selalu untuk bicara. Hari itu, Rafa duduk bersama Dika saat jadwal jaga. Seorang anak laki-laki kelas bawah datang. Ia duduk, tidak bicara. Lalu berkata pelan, “Aku denger kamu waktu itu.” Rafa menoleh. Anak itu tidak menatapnya. “Aku pikir… cuma aku yang mikir kayak gitu.

  • Luka di Ujung Senja   Bab 117

    Hari Ekspresi Diri akhirnya tiba. Sekolah terasa berbeda sejak pagi. Ada semacam getaran kecil di udara—bukan tegang, tapi penuh antisipasi. Beberapa siswa membawa alat musik, beberapa memegang kertas berisi tulisan, dan ada juga yang hanya berjalan seperti biasa, memilih menjadi penonton. Rafa datang seperti hari-hari sebelumnya. Tas di punggung. Langkah tidak terburu. Tapi ada satu hal yang berbeda: ia membawa kertas kecil di saku. Bukan karena sudah memutuskan untuk tampil. Hanya… berjaga-jaga. — Di aula sekolah, kursi-kursi sudah disusun rapi. Panggung sederhana di depan, dengan mikrofon berdiri di tengah. Tidak megah. Tapi cukup. Rafa duduk di barisan tengah bersama Dika. “Deg-degan?” tanya Dika. Rafa mengangkat bahu. “Aku kan nggak tampil.” Dika tersenyum. “Belum tentu.” Rafa tidak menjawab. Ia menatap panggung. Satu per satu siswa mulai tampil. Ada yang menyanyi. Ada yang membaca puisi. Ada yang bercerita tentang pengalaman pribadi. Beberapa suara bergeta

  • Luka di Ujung Senja   Bab 63

    Beberapa hari setelah Anggi mengirimkan esai itu, ia berusaha melupakannya. Ia kembali pada rutinitas—mengantar Rafa ke sekolah, memeriksa jadwal kantor, menyiapkan makan malam. Ia tahu, menunggu kabar hanya akan membuatnya gelisah. Maka ia memilih berjalan seperti biasa, membiarkan hidup mengisi h

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Luka di Ujung Senja   Bab 62

    Tahun baru datang tanpa kembang api di halaman rumah Anggi. Tidak ada hitung mundur, tidak ada resolusi besar yang ditulis dengan spidol tebal. Mereka menyambutnya dengan makan malam sederhana dan doa pendek. Rafa tertidur lebih cepat dari biasanya, kelelahan setelah hari panjang. Anggi dan Rendra

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Luka di Ujung Senja   Bab 64

    Waktu berlalu setelah buku itu terbit, membawa Anggi ke fase yang lebih sunyi—bukan sepi, melainkan tenang. Ia tidak lagi mengecek ponsel setiap beberapa menit, tidak lagi menunggu pesan atau pengakuan. Ia membaca pesan pembaca sesekali, menjawab jika punya energi, dan membiarkan sisanya berlalu se

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Luka di Ujung Senja   Bab 65

    Hari-hari berikutnya tidak membawa kejutan besar, tapi justru di situlah Anggi menemukan sesuatu yang dulu selalu ia cari tanpa sadar: kestabilan yang tidak membosankan. Hidupnya tidak menjadi datar—ia tetap naik turun—namun ia tidak lagi terombang-ambing. Suatu pagi, Anggi menerima pesan suara da

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status