Clara cepat-cepat menyeka air matanya sebelum isaknya sempat terdengar. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Namun tubuhnya berkhianat. Kakinya terasa lemah, dan punggungnya bersandar pada dinding dingin di koridor dapur. “Bee?” Suara Regan memanggilnya lembut, namun cukup untuk membuat Clara terlonjak. Ia tidak tahu sejak kapan pria itu menyadari kehadirannya. Regan mematikan kompor dan berbalik, wajahnya langsung berubah saat melihat mata Clara yang memerah. “Ada apa?” cemasnya sambil melangkah mendekat. Clara menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Aku hanya baru bangun.” Regan tidak langsung percaya, tetapi ia memilih diam. Ia meraih tangan Clara, menggenggamnya hangat lalu menariknya masuk ke pelukan. Aroma masakan, sabun, dan dirinya sendiri menyatu dan itu saja sudah cukup untuk membuat Clara merasa lebih tenang. “Kamu menangis,” ucap Regan. “Aku hanya mimpi aneh. Mungkin karena kelelahan.” Regan menghela napas,
Última actualización : 2026-01-03 Leer más