"Mulai deh..." gumam Alya sambil memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona merah yang makin menjalar di pipinya. Melihat reaksi malu-malu sang istri, tawa Reihan akhirnya pecah. Suasana canggung yang tadi menyelimuti kabin mobil seketika mencair, berganti dengan kehangatan yang jauh lebih santai. Reihan pun mulai menjalankan mobilnya, perlahan meninggalkan area rumah sakit. "Mas, kita langsung ke kampus saja, ya?" ucap Alya memecah keheningan. "Lagi pula sebentar lagi kelas akan dimulai, kan?" lanjutnya sambil melirik jam di pergelangan tangan. "Apa perutmu sudah lebih baik?" tanya Reihan memastikan. "Kalau masih terasa mual, lebih baik kamu istirahat saja dulu di rumah. Ingat kata dokter tadi, kamu harus lebih banyak istirahat." Alya tersenyum manis, lalu menggeleng kecil untuk meyakinkan suaminya. "Aku sudah nggak apa-apa kok, Mas. Masih sedikit mual sih, tapi nanti setelah minum obat dari dokter pasti jauh lebih baik," ucap Alya lembut. "Yakin?" tanya Reihan lagi, nada bi
Read more