Bima menarik napas dalam-dalam, mencoba sekuat tenaga menekan rasa kesal yang sempat membakar dadanya."Oke... Baiklah jika itu maumu," ucap Bima akhirnya dengan nada suara yang terdengar sangat santai, hampir meremehkan.Ia lalu menoleh ke arah Karin, menatap wanita itu dengan sebelah alis terangkat. "Lalu apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana caramu menjelaskan tentang janin itu pada orang tuamu?""Aku akan menjelaskan semuanya. Bahwa janin itu tidak pernah ada. Itu hanya kebohongan untuk membatalkan perjodohan," ucap Karin tegas.Seketika, tawa Bima pecah. Ia terkekeh rendah, sebuah tawa hambar yang terasa seperti sindiran tajam di telinga Karin."Kenapa kamu tertawa? Apa yang lucu?" tanya Karin dengan dahi berkerut, merasa tersinggung."Karin, Karin... Wajahmu saja yang cantik, tapi sayang kamu itu bodoh," ucap Bima tanpa ragu, membuat wajah Karin seketika memerah padam karena amarah.Karin hendak membalas, namun Bima justru memajukan sedikit tubuhnya, mengintimidasi ruang gerak K
Read more