"Sudah, berhenti menangis," ucap Reihan lembut.Ia memiringkan kepala, menatap wajah Alya dengan intensitas yang membuat napas gadis itu tertahan.“Lihat, istriku jadi jelek sekali saat meneteskan air mata,” lanjutnya sambil menyunggingkan senyum tipis.Alya tersenyum kecut. Meski ejekan itu terdengar menyebalkan, ia tahu itu adalah cara Reihan untuk menghiburnya. Dengan suara yang masih serak dan lirih, ia menatap suaminya.“Terima kasih,” ucap Alya.Reihan mengangkat sebelah alisnya, pura-pura tidak mengerti. “Untuk apa?”“Untuk segalanya,” jawab Alya tulus.Reihan terdiam sejenak, lalu mendengus pelan seolah tidak puas dengan jawaban itu. “Hanya itu?”Alya mengerutkan keningnya, bingung. “Maksudnya?”Reihan berdeham, ia melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh yang dibuat-buat.“Setelah semua yang aku lakukan, aku hanya mendapatkan ucapan terima kasih?”"Lalu... Mas mau apa?" tanya Alya."Hmm..." Reihan mengetuk dagunya, seolah sedang berpikir keras. Ia melirik ke kiri da
Magbasa pa