Reihan terkekeh pelan melihat tingkah Alya. Rasa tegang yang sempat menghimpit dadanya seketika menguap, digantikan oleh rasa gemas yang membuncah. Tangannya terulur, mencubit gemas pipi sang istri yang masih mengerucut sebal."Ya ampun, Sayang..." ucap Reihan tertawa kecil."Bukan begitu maksud Mas. Mas itu khawatir dengan kalian bertiga. Hanya saja, jam segini sudah terlalu larut, nggak baik buat kesehatan ibu hamil dan janinnya kalau begadang terus.""Oh..." Alya mengangguk pelan.Namun beberapa detik kemudian, wanita itu kembali bersuara dengan nada sendu yang dibuat-buat."Aku kira Mas sudah nggak cinta sama aku.""Mas cinta kok, cinta banget malah," balas Reihan sabar, namun kini nadanya berubah sedikit tegas. "Tapi sekarang, kamu harus tidur. Sudah malam, oke?"Alya mendengus pasrah. "Iya, iya..." gumamnya seraya kembali merebahkan tubuhnya ke kasur.Dengan telaten, Reihan menarik selimut tebal mereka, membungkus tubuh Alya dengan nyaman hingga sebatas bahu. Ia lalu menunduk, m
Read more