"Terima kasih, Mas," ucap Alya lirih, suaranya masih terdengar serak. "Terima kasih karena selalu membuatku merasa berharga."Reihan tersenyum hangat, mengusap sisa ujung matanya yang basah. "Iya, Sayang. Karena ini memang sudah menjadi tugasku sebagai suamimu."Pria itu kemudian bangkit dari posisi berlututnya. "Sekarang, jangan menangis lagi, ya. Mas menyiapkan semua ini untuk membuatmu bahagia, bukan untuk membuatmu menangis," bujuk Reihan lembut.Tanpa banyak bicara lagi, Reihan mengambil kalung berlian itu dari dalam kotak beludru, lalu berdiri di belakang Alya. Dengan gerakan hati-hati, ia memasangkan kalung tersebut di leher sang istri."Kalung ini terlihat jauh lebih indah karena kamu yang memakainya." ucap Reihan.Pipi Alya langsung memerah. Meski bekas air matanya masih terlihat, senyum manis kini tak lagi lepas dari bibirnya.“Terima kasih, Mas,” bisiknya pelan."Sama-sama, Sayang. Sekarang, ayo kita makan," ajak Reihan sambil berjalan kembali dan duduk di kursinya yang ber
Read more