Siska bangkit dari duduknya, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Napasnya memburu, menahan amarah yang meledak karena penolakan mentah-mentah dari Reihan."Anda tidak bisa memperlakukan saya seperti ini!" ucap Siska dengan suara meninggi, tidak peduli lagi dengan citra anggun yang sejak tadi ia bangun."Melakukan apa?" tanya Reihan datar.Nada suaranya begitu tenang, seolah teriakan Siska hanyalah angin lalu yang tidak berarti apa-apa.Pertanyaan balik itu seketika membungkam Siska. Lidahnya mendadak kelu, wajahnya menunjukkan kepanikan yang berusaha ia sembunyikan."Kenapa... Kenapa Anda selalu mencampakkan saya? Kenapa Anda tidak pernah melihat ke arah saya?" isak Siska, suaranya bergetar menuntut perhatian yang tak pernah ia dapatkan."Keluar," ucap Reihan. Singkat, padat, dan sedingin es."Tapi, Pak...""Saya bilang keluar, Siska."Rasa geram Siska mencapai puncaknya. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh sikap acuh tak acuh pria di hadapannya ini.Ditambah lagi,
อ่านเพิ่มเติม