Aku mulai menyadari satu hal yang tidak pernah kuantisipasi: jarak tidak selalu terasa seperti kilometer. Kadang ia terasa seperti kesibukan. Hari-hariku di Surabaya semakin penuh. Promosi itu bukan sekadar jabatan baru, melainkan seluruh dunia baru yang harus kupelajari dari nol. Aku memimpin tim yang lebih besar, menghadapi klien yang lebih sulit, dan mengambil keputusan yang tidak bisa ditarik kembali. Dan setiap malam, ketika aku akhirnya bisa berhenti sejenak, yang kurasakan bukan lega—melainkan hampa. Arsen masih ada. Kami masih bicara. Tapi semakin hari, kami terasa seperti dua orang yang berdiri di tengah keramaian yang berbeda, saling melambaikan tangan, tapi tak bisa benar-benar mendekat. Suatu malam, aku pulang dengan kepala berdenyut. Aku duduk di lantai apartemen, menyandarkan punggung ke sofa, dan membiarkan sepatu hakku tergeletak begitu saja. Ponselku berge
Last Updated : 2026-01-14 Read more