Bandara menyambutku dengan bau logam dan suara roda koper yang bergesek di lantai. Aku berdiri di antrean kedatangan, mencoba menenangkan napas. Kota ini masih sama seperti terakhir kali kutinggalkan, tapi aku tahu—aku tidak.Ada perasaan aneh ketika kembali ke tempat yang pernah kita sebut “rumah”. Seolah bangunan, jalan, dan langitnya mengingat kita, meski kita sendiri sudah berubah.Aku melangkah keluar dari pintu kedatangan dengan langkah perlahan. Kerumunan orang bergerak seperti arus, dan di antara mereka, aku langsung mengenali satu sosok.Arsen berdiri sedikit menjauh dari keramaian, mengenakan kemeja putih dan jaket gelap. Tidak ada ekspresi dingin CEO. Hanya seorang pria yang menunggu.Tatapan kami bertemu.Untuk sesaat, dunia terasa terlalu sunyi.Ia tidak langsung mendekat. Tidak tersenyum lebar. Tidak membuka tangan. Ia hanya berdiri di sana, dan entah mengapa, sikap itu jauh lebih intim daripada pelukan.Aku melangkah lebih dulu.“Halo,” kataku.“Halo,” jawabnya pelan.K
Last Updated : 2026-01-12 Read more