Keesokan harinya.Sebelum matahari benar-benar tinggi menyinari langit Bandung, aku sudah siap pulang ke Jakarta. Aku duduk di kursi belakang, sementara asisten pribadiku yang bernama Jaka—tengah mengemudi dengan tenang, tangan kiri tetap erat di setir sambil mata memantau lalu lintas yang mulai ramai.Namun, sebelum meninggalkan Bandung, aku sudah mengatur rute dengan cermat.Pertama, mampir ke toko oleh-oleh khas yang terletak di pinggir jalan utama—di sana aku membeli 5 kilo peuyeum, bolu susu dan brownies panggang. Semua itu untuk kesayangku—Qiara.Kemudian, kami berhenti di mini market untuk membelikannya beberapa varian susu ibu hamil dengan merek paling bagus. Di perjalanan, ketika mobil sudah melaju stabil di jalan tol, aku mengeluarkan ponselku yang satunya.Saat layarnya menyala dengan cahaya putih yang menyilaukan, deretan pesan masuk bertebaran di layar—dari rekan sesama dokter, Maira, Dylan, Karin dan masih banyak lagi.Tapi, dari sekian banyaknya pesan yang belum terbac
Last Updated : 2025-12-23 Read more